Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mbah Mesir Tokoh Agama Penyebar Islam di Trenggalek pada Era Mataraman

Wanda Asmah Khoiriyah • Rabu, 2 April 2025 | 14:18 WIB
Para peziarah sedang melakukan doa bersama di sekitar makam mbah mesir. Salah seorang tokoh terkenal di Trenggalek yang menyebarkan agama islam.
Para peziarah sedang melakukan doa bersama di sekitar makam mbah mesir. Salah seorang tokoh terkenal di Trenggalek yang menyebarkan agama islam.

Trenggalekjenggelek - Syekh Abdul Mahsyir, atau yang biasa dikenal dengan Mbah Mesir adalah seorang ulama yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Trenggalek. Tokoh agama yang menyiarkan agama islam di wilayah Mataraman sejak awal 1900.

Juru pemelihara daerah, Miftahurrohman mengatakan, Mataraman merupakan daerah yang berada di Jawa Timur yang memiliki pengaruh kuat budaya mataram, dari segi budaya, bahasa, maupun sejarah. Dikenal sebagai Jawa mataraman, sebab daerah yang masih dibawah kekuasaan Kesultanan Mataram Islam, sehingga tradisi masih melekat.

Salah satu tokoh yang terkenal pada era Mataraman adalah Mbah Mesir. Tokoh agama yang merupakan anak dari Kiai Yahudo, putra kedua dari 16 bersaudara. Kiai Yahudo adalah mantan prajurit Pangeran Diponegoro yang menetap di Pacitan setelah Perang Jawa pada 1825-1830. Beliau dikenal memiliki ilmu kanuragan, ilmu sakti dalam bela diri. Namun, beliau memilih untuk tidak mewariskan ilmunya tersebut kepada anak-anaknya, termasuk Mbah Mesir, agar mereka lebih fokus pada menyebarkan ilmu keagamaan.

Dibalik kepintarannya dalam mensyiarkan agama, beliau selalu belajar kepada Kiai Hasan Besari di Tegalsari, Ponorogo. Lambat laun, Mbah Mesir mulai dikenal oleh Bupati Trenggalek saat itu, Menak Sopal. Alhasil, beliau memutuskan untuk berdakwah di wilayah tersebut. Pada masanya, beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid di Desa Parakan sebelum akhirnya pindah ke Desa Durenan. Beliau juga mendirikan pondok pesantren dan masjid yang menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Mataraman.

Warisan budaya yang ditinggalkan oleh Mbah Mesir adalah tradisi Kupatan atau Lebaran Ketupat. Sejarah ini bermula dari kebiasaan beliau yang melaksanakan puasa sunah Syawal selama enam hari setelah Idulfitri. Pada hari ke delapan bulan Syawal, masyarakat sekitar berkumpul untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan ketupat bersama. Tradisi tersebut, kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Makam Mbah Mesir terletak di Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Setiap tahun, makam beliau ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah yang ingin menghormati jasa-jasanya dalam penyebaran Islam dan pelestarian tradisi keagamaan di Trenggalek.

Editor : Wanda Asmah Khoiriyah
#mbah mesir #kupatan #Islam