Trenggalekjenggelek- Tradisi kupatan atau lebaran ketupat di Kecamatan Durenan, ternyata sudah berlangsung lebih dari 300 tahun, alias lebih dari tiga abad.
Tradisi kupatan di Kecamatan Durenan ini ternyata dulunya dikenalkan oleh Kiai Abdul Masir, atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mesir. Dia mengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Babul Ulum, di Desa Surenan, Kecamatan Durenan.
Kini, setelah Mbah Mesir wafat, pondok pesantren tersebut dikelola para keturunan Mbah Mesir. Termasuk anak dan cucunya.
Informasi yang berhasil dihimpun trenggalekjenggelek.jawapos.com Mbah Mesir kala itu rutin menjalankan puasa syawal. Yakni dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 6 Syawal. Traidisi itupun terus dilanjutkan keturunan Mbah Mesir.
Nah, setelah usai menjalankan puasa syawal, barulah Mbah Mesir menerima tamu. Tentu saja awalnya dulu hanya para santri pondok pesantren. Namun kini sudah menjadi tradisi sampai akhirnya dikenal dengan tradisi kupatan atau lebaran ketupat.
Tradisi kupatan atau lebaran ketupat di Kecamatan Durenan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. Tidak hanya warga lokal, namun juga luar daerah.
Lebaran ketupat ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat. Buktinya, para petinggi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek juga sowan atau berkunjung ke Pondok Pesantren Babul Ulum.
Hal itu dilakukan tak sekadar silaturahmi. Namun juga saling memaafkan dalam moment Idul Fitri. (wen)