Trenggalekjenggelek- Tradisi kupatan atau lebaran ketupat banyak dilaksanakan di berbagai daerah. Tak terkecuali di Kabupaten Trenggalek. Salah satu pusat perayaan lebaran ketupat yakni di Kecamatan Durenan.
Biasanya, lebaran ketupat di Kecamatan Durenan dilaksanakan pada H+7 atau hari lebaran ke-7. Ini sudah ada sejak turun temurun. Bahkan kini tradisi tersebut menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat lokal maupun luar daerah.
Tradisi kupatan di Kecamatan Durenan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini dulunya dikenalkan oleh Kiai Abdul Masir, atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mesir. Dia mengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Babul Ulum, di Desa Durenan, Kecamatan Durenan. Kini sepeninggal Mbah Mesir, traidisi kupatan masih terus berlangsung.
Keempat nafsu itu hanya mampu ditaklukkan oleh satu amaliyah. Yakni dengan berpuasa. Dalam tradisi lebaran ketupat, disimbolkan bahwa seseorang yang memakan ketupat, orang itu dianggap sudah mampu menaklukkan keempat nafsu itu.
Kustiyah, salah seorang pembuat ketupat menceritakan, ketupat sudah ada sejak zaman dulu. Begitu juga dengan tradisi kupatan yang identik dilaksanakan pada hari lebaran ke-7.
“Sudah ada sejak dulu, sejak mbah-mbah dulu. Kini anak cucu tinggal meneruskan tradisi,” ungkapnya.
Terkait dengan makna ketupat, wanita berusia setengah abad itu mengaku tak sekadar suguhan untuk tamu. Namun juga sebagai perekat silaturahmi. “Jadi untuk memperkuat silaturahmi, saling memaafkan. Jadi bukan sekadar suguhan,” imbuhnya. (wen)