Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

1 Tradisi 1000 Makna: Kupatan dan Tiban di Jantung Trenggalek

Mahsun Nidhom • Senin, 7 April 2025 | 18:24 WIB

Tradisi tiban di tengah kota. Cambuk menyatu dengan doa, membelah jalan sebagai harapan.
Tradisi tiban di tengah kota. Cambuk menyatu dengan doa, membelah jalan sebagai harapan.

Trenggaleknjenggelek - Hari ini, tepat tujuh hari setelah Idul Fitri, masyarakat muslim merayakan hari raya kupatan—hari ketika ketupat tidak hanya disantap, tetapi juga dimaknai sebagai simbol maaf, syukur, dan harapan baru.

Di banyak daerah, kupatan menjadi momen silaturahmi yang unik, karena hadir di luar ruang masjid dan mushola, masuk ke lorong-lorong budaya lokal.

 Baca Juga: Makna Ketupat dan Lepet dalam Tradisi Lebaran Ketupat

Salah satu yang menarik terjadi di RT 14 RW 05 Kelurahan Kelutan, Trenggalek. Warga setempat menggelar “Gebyar Kupatan” dengan sentuhan khas: mereka mengusung tema tiban, sebuah tradisi leluhur yang nyaris terlupakan.

“Nguri-uri tradisi Trenggalek, yaitu tiban, yang konon katanya bisa mendatangkan hujan,” ujar panitia dengan nada penuh semangat dan hormat kepada warisan leluhur.

Menelusuri Jejak Tiban: Antara Ritual dan Realitas

Tiban bukan sekadar pertunjukan adu cambuk yang menggetarkan tanah. Dalam nalar budaya Jawa, tiban dipercaya sebagai bentuk permohonan agar langit menurunkan hujan, terutama saat kemarau panjang mulai mengancam ladang.

Tradisi ini terekam dalam banyak sumber sejarah lisan masyarakat agraris, khususnya di wilayah selatan Jawa Timur.

Secara etimologis, “tiban” berasal dari kata “tiba” yang berarti turun. Dalam konteks ini, harapannya adalah turunnya hujan sebagai berkah dari langit. Namun secara simbolik, tiban juga bermakna pengorbanan dan kekuatan spiritual yang lahir dari kebersamaan.

Dua pemuda saling mencambuk, bukan karena dendam, melainkan sebagai bentuk laku tirakat, pengingat bahwa alam pun butuh ketulusan dan pengorbanan untuk menurunkan keberkahan.

 Baca Juga: Ketupat Sayur Lodeh Bubuk Kedelai, Bisa Jadi Suguhan Saat Tradisi Kupatan

Kupatan sebagai Simbol Islam-Jawa yang Harmoni

Kupatan sendiri adalah warisan akulturasi antara nilai Islam dan budaya Jawa. Dalam catatan sejarah, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang pertama kali memopulerkan ketupat sebagai simbol falsafah hidup.

Kata “kupat” merupakan akronim dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan spiritual): lebaran, puasa Syawal, kupatan, dan halal bihalal.

Dengan memasukkan tiban dalam perayaan kupatan, warga RT 14 RW 05 tidak hanya mempertahankan tradisi, tapi juga menunjukkan fleksibilitas budaya lokal dalam merespons zaman.

Mereka menyatukan nilai Islam, lokalitas agraris, dan semangat kolektif dalam satu panggung budaya rakyat.

Antara Langit yang Dinanti dan Akar yang Dirawat

Menariknya, dalam tradisi tiban, hujan bukan satu-satunya harapan. Ada dimensi sosial yang lebih dalam: gotong royong, regenerasi budaya, dan pemulihan ingatan kolektif.

Di tengah arus digital dan budaya pop yang deras, panggung tiban menjadi ruang edukasi budaya yang nyata bagi generasi muda.

Dalam acara Gebyar Kupatan ini, anak-anak belajar bahwa tradisi bukan sekadar tontonan, tetapi bagian dari jati diri yang harus dirawat. Sebab sebagaimana akar yang menyimpan air untuk pohon, tradisi menyimpan nilai untuk masyarakat.

Ketika cambuk tiban dilecutkan dan suara sorak bergemuruh di antara aroma ketupat dan opor, yang lahir bukan hanya hiburan, tapi juga kesadaran: bahwa identitas Trenggalek tidak dibangun dari beton dan jalan tol saja, tetapi juga dari ritual-ritual kecil yang mengikat masa lalu, kini, dan masa depan.

Tradisi tidak harus dikurung dalam museum. Ia bisa hidup, bergerak, dan membentuk watak masyarakat—asal diberi ruang untuk tumbuh, dihormati, dan disambung dari satu generasi ke generasi lain.

Editor : Mahsun Nidhom
#Ketupat 2025 #idul fitri #tradisi #kupatan #sejarah