Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tiban dan Kupatan: Tradisi Doa Hujan yang Membumi

Mahsun Nidhom • Senin, 7 April 2025 | 20:00 WIB
Warga RT 14 RW 05 Kelurahan Kelutan gelar Gebyar Ketupat dan tradisi tiban, merawat budaya sekaligus doa hujan di hari ke-7 Idulfitri.
Warga RT 14 RW 05 Kelurahan Kelutan gelar Gebyar Ketupat dan tradisi tiban, merawat budaya sekaligus doa hujan di hari ke-7 Idulfitri.

Trenggaleknjenggelek - Hari ketujuh pasca Idul fitri bukan hanya penanda berakhirnya gema takbir, melainkan juga munculnya tradisi kupatan di berbagai pelosok Jawa.

Dalam balutan syukur dan semangat merawat budaya, warga RT 14 RW 05 Kelurahan Kelutan, Trenggalek, menggelar Gebyar Kupatan dengan mengangkat tema tiban.

Tiban, sebuah ritual budaya yang dilakukan dengan saling mencambuk menggunakan rotan, sekilas tampak seperti warisan kekerasan. Namun di balik itu, terdapat filosofi spiritual dan dimensi religius yang tak boleh diabaikan.

Tradisi Syukur dan Refleksi

Dalam Islam, Idul Fitri merupakan perjalanan spiritual pasca-Ramadan. Tradisi kupatan, yang ditandai dengan membuat ketupat (simbol hati yang bersih) dan silaturahmi, adalah perwujudan tazkiyatun nafs—upaya menyucikan diri.

Sebagian ulama menyebut bahwa kupatan merupakan adaptasi lokal dari ajaran sholat tasbih, yang mengandung nilai pensucian diri melalui simbol-simbol budaya.

Doa Hujan dalam Bentuk Budaya

Meski tidak ditemukan dalam teks-teks fiqh klasik, tradisi tiban bisa dibaca sebagai ekspresi lokal dari konsep istisqa’—doa meminta hujan. Hanya saja, ia diwujudkan dalam bentuk ritus yang khas dan menyatu dengan alam sekitar.

Dalam Islam, hujan adalah rahmat dan tanda keberkahan -rohmah, dan segala usaha memohon hujan, selama tidak mengandung syirik, bisa menjadi bentuk tawassul budaya yang sah.

KH. Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus pernah berkata, “Agama itu esensinya menghargai manusia dan kebudayaannya.”

Maka, selama tiban tidak mengandung unsur kemusyrikan dan lebih dilihat sebagai simbol kepasrahan dan solidaritas sosial, maka ia bisa menjadi media dakwah kultural yang efektif.

Tiban, Syiar Islam Tanpa Mimbar

Tiban bukan sekadar atraksi. Ia adalah perjumpaan antara langit dan bumi, antara harapan dan kenyataan. Ketika para lelaki bertelanjang dada mencambuk satu sama lain, mereka sedang menyuarakan harap agar langit terbuka dan hujan turun sebagai berkah.

Dalam suasana itu, tidak ada panggung ceramah, tetapi nilai-nilai Islam—tentang kesabaran, kebersamaan, dan harapan—dipentaskan dengan tubuh.

Sebagaimana Maulana Jalaluddin Rumi pernah menulis, “Tuhan lebih dekat pada mereka yang menari di tengah debu, ketimbang mereka yang bicara dari atas mimbar.” Maka tiban, dengan segala kesederhanaannya, adalah tarian spiritual dalam tradisi kita.

Islam yang Membumi

Gebyar kupatan tahun ini menunjukkan bahwa Islam tidak harus selalu tampil dengan jubah formal. Kadang, ia bersemayam dalam rotan tiban, dalam ketupat yang dibagikan, dalam peluh yang menetes dari dahi para lelaki kampung yang berharap hujan turun untuk sawah-sawah mereka.

Pada akhirnya, Islam tidak sedang berbenturan dengan budaya, melainkan menyerap dan menyuburkannya. Dalam tiban, kita menyaksikan bahwa iman tidak hanya bisa ditulis di kitab, tapi juga dilukis di jalanan, dengan rotan, peluh, dan doa yang melangit.

 

Editor : Mahsun Nidhom
#budaya #tiban #tradisi #kupatan #ketupat