Trenggaleknjenggelek – Perayaan tradisi kupatan yang setiap tahun dimeriahkan dengan pawai ketupat di Kecamatan Durenan kini menghadapi tantangan serius. Agenda tahunan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat sejak 2010 itu, terancam tidak terselenggara tahun ini akibat keterbatasan anggaran.
Kepala Desa Durenan, Imam Safi’i, membenarkan bahwa salah satu kendala utama adalah minimnya anggaran. Ia menyebutkan bahwa desa sebelumnya telah mengalokasikan dana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Namun, efisiensi anggaran di tingkat kabupaten membuat pelaksanaan pawai menjadi sulit. “Efisiensi anggaran dari pemkab menyebabkan pemangkasan dana secara signifikan, sehingga belum ada kepastian dari panitia mengenai pelaksanaan arak-arakan ketupat tahun ini,” ujarnya.
Menurut Imam, biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pawai ketupat secara penuh diperkirakan mencapai Rp 15 juta. Namun hingga saat ini, dana yang tersedia masih sangat jauh dari angka tersebut. “Untuk menggelar arak-arakan ketupat, dana yang tersedia saat ini masih sangat terbatas dari kebutuhan. Dinas Pariwisata hanya mengalokasikan Rp 3 juta untuk seni pertunjukan, dan dari desa kami menyumbang Rp 5 juta,” jelasnya.
Meski begitu, Imam memastikan bahwa semangat untuk melestarikan tradisi kupatan tidak akan padam. Ia menegaskan bahwa jika pawai tidak bisa dilaksanakan secara meriah seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat tetap akan mengadakan perayaan kupatan secara sederhana. “Meski pawai tak seramai tahun sebelumnya, kupatan tetap dilakukan di lingkup masyarakat untuk bersilaturahmi,” tambahnya.
Imam juga berharap agar kegiatan pawai tetap bisa berlangsung sebagai bentuk pelestarian budaya lokal yang telah mengakar kuat di masyarakat Durenan. “Kami berharap kegiatan pawai tetap bisa berlangsung, meski dengan skala terbatas, agar semangat budaya dan kebersamaan tetap hidup,” tandasnya.
Editor : Wanda Asmah Khoiriyah