Trenggaleknjenggelek – Pondok Pesantren Darussalam yang berlokasi di Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan, Trenggalek, memiliki jam istiwa atau yang dikenal juga sebagai jam matahari. Alat ini dimanfaatkan sebagai penunjuk waktu sholat berdasarkan pergerakan matahari.
Jam istiwa merupakan alat astronomi tradisional yang berfungsi untuk menentukan waktu-waktu sholat, khususnya waktu zawal, yaitu saat matahari tepat berada di atas kepala (titik kulminasi) yang menandai masuknya waktu Dzuhur. Alat ini biasanya berbentuk lempengan datar yang dilengkapi dengan tongkat tegak lurus (gnomon), dan bayangan dari tongkat tersebut menjadi indikator waktu.
Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, KH. Muhammad Afifudin Yunus menjelaskan, keberadaan jam istiwa bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dalam pendidikan santri, terutama dalam bidang falak atau ilmu hisab. “Kami ingin santri mengenal langsung cara tradisional dalam menentukan waktu sholat. Ini juga bagian dari pelestarian warisan ilmu Islam klasik,” ungkapnya.
Cara kerja jam ini tergolong sederhana, perlu mengamati posisi matahari dan memahami konsep peredaran waktu berdasarkan alam. Dengan melihat bayangan tongkat pada jam istiwa, bisa tahu kapan matahari tepat di atas kepala. Saat bayangan menghilang atau sejajar dengan garis tertentu, itu tandanya waktu Dzuhur sudah tiba.
Keberadaan jam istiwa di pondok ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam ibadah sudah lama dikenal dan diajarkan dalam dunia pesantren. Meski teknologi modern seperti jam digital dan aplikasi sudah tersedia, jam istiwa tetap dijaga dan digunakan sebagai bentuk kearifan lokal dan pendekatan ilmiah yang Islami. "Dengan adanya jam istiwa, tidak hanya digunakan sebagai penentu waktu dalam beribadah, tetapi juga mengenal lebih dalam hubungan antara alam semesta dan kehidupan spiritual, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam sejak dahulu kala," tandasnya.