Trenggaleknjenggelek - Saat embun masih bergelayut di pucuk dedaunan dan langit belum benar-benar biru, langkah kaki Pak Uri, 55, dan istrinya sudah terdengar menyusuri lereng Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko.
Tujuan mereka jelas, memanjat pohon-pohon cengkeh yang berdiri anggun di kebun sendiri. “Satu pohon bisa menghasilkan lima sampai tujuh kilo cengkeh kering,” katanya sambil menyeka keringat yang mengalir dari pelipis.
“Tapi memetiknya tidak bisa sembarangan. Salah metik bisa merusak tunasnya.” tambahnya.
Ketelatenan yang Tak Pernah Ngawur
Bagi Pak Uri, cengkeh bukan sekadar komoditas musiman. Ia adalah sahabat lama yang telah menemaninya sejak usia belasan. Bersama sang istri, ia menjalani ritme panen dari subuh hingga asar.
Jika cuaca cerah, pekerjaan dipercepat. “Takut hujan. Kalau basah, cengkeh bisa cepat rusak dan proses jemur jadi lama,” ujarnya.
Keduanya berpacu dengan waktu. Membawa pulang hasil panen untuk dijemur, disangrai, lalu disimpan. Dalam beberapa minggu ke depan, tumpukan cengkeh kering itu menjadi harapan untuk kebutuhan hidup, biaya sekolah cucu, dan ongkos bertani musim depan.
Harga Naik Turun, Harapan Tetap Tegak
Meski permintaan tinggi, harga cengkeh di tingkat petani sering kali tak menentu. “Kadang bagus, kadang ndlosor mas” celetuknya.
Situasi ini kerap membuat khawatir jerih payahnya tidak sebanding dengan hasil yang diterima. Ia berharap ada peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga cengkeh.
“Kalau cengkeh ini dirawat dengan sabar, hasilnya insyaallah cukup. Yang penting kerja halal dan hati senang,” pungkasnya dengan senyum tipis. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom