Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Trenggalek Masih Hadapi Ketimpangan Gender sebagai Tantangan Sosial

Wanda Asmah Khoiriyah • Selasa, 15 April 2025 | 04:00 WIB
Ketimpangan gender d Trenggalek masih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam membuka ruang untuk perempuan dan pekerjaan yang sesuai
Ketimpangan gender d Trenggalek masih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam membuka ruang untuk perempuan dan pekerjaan yang sesuai

Trenggaleknjenggelek – Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Trenggalek pada 2023 tercatat sebesar 93,18 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,11 persen dibandingkan 2022 yang sebesar 93,07 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Trenggalek Mimik Nurjanti mengatakan, dari data tersebut menunjukkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) laki-laki di Trenggalek pada 2023 mencapai 76,55, sedangkan IPM perempuan hanya 71,33. Hal ini menggambarkan, perempuan masih belum sepenuhnya sejajar dalam capaian pembangunan dibandingkan laki-laki. "Alhasil, disparitas atau kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan masih menjadi perhatian, karena capaian pembangunan manusia laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan perempuan," ujarnya.

Sementara itu, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Trenggalek selama periode 2019–2023 mengalami fluktuasi. Pada 2019, IKG tercatat sebesar 0,461. Nilai ini sempat menurun menjadi 0,421 pada 2020, menunjukkan perbaikan dalam kesetaraan gender. Namun, pada 2022 IKG meningkat menjadi 0,497 persen mengindikasikan adanya lonjakan ketimpangan gender. Sedangkan pada 2023 mengalami penurunan IKG menjadi 0,425 persen yang menjadi sinyal positif bahwa kesetaraan gender.

Mimik menambahkan, ketimpangan tersebut juga tercermin dalam berbagai indikator pembangunan, seperti rata-rata lama sekolah laki-laki adalah 8,20 tahun, sementara perempuan hanya 7,60 tahun. Namun demikian, harapan lama sekolah perempuan sedikit lebih tinggi, yaitu 12,65 tahun dibandingkan laki-laki 12,56 tahun.

Dari sisi kesehatan, usia harapan hidup perempuan juga lebih tinggi sekitar 77,98 tahun, dibandingkan laki-laki 73,23 tahun. Namun, dari sisi ekonomi terdapat perbedaan signifikan dalam pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan, yakni Rp 15.784.000 untuk laki-laki dan hanya Rp 10.054.000 untuk perempuan. "Semakin kecil jarak IPG dengan angka ideal 100, maka semakin kecil pula ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, pemkab perlu mendorong masyarakat untuk memperdayakan perempuan dan memperluas akses terhadap pendidikan dan ekonomi setara," tandasnya. 

Aktivitas pembuatan lontong di Kampung Lontong Banyuurip Lor, Surabaya.
Aktivitas pembuatan lontong di Kampung Lontong Banyuurip Lor, Surabaya.
LUMPIA BONEK: Lumpia produksi Kampung Lumpia Ngaglik tak hanya dipasarkan di Surabaya, namun juga kota sekitar.
LUMPIA BONEK: Lumpia produksi Kampung Lumpia Ngaglik tak hanya dipasarkan di Surabaya, namun juga kota sekitar.
Proses pembuatan tempe di Kampung Tempe kawasan Tenggilis ini dilakukan secara tradisional.
Proses pembuatan tempe di Kampung Tempe kawasan Tenggilis ini dilakukan secara tradisional.
Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah mengerjakan ratusan soal dalam tes kejiwaan yang berlangsung di kantor BKPSDM Kota Kediri.
Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah mengerjakan ratusan soal dalam tes kejiwaan yang berlangsung di kantor BKPSDM Kota Kediri.
Editor : Wanda Asmah Khoiriyah
#Pluralisme #ketimpangan gender #indeks ketimpangan gender #Indeks Pembangunan Gender