Trenggaleknjenggelek - Di Desa Pringapus, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, getah pinus bukan sekadar hasil alam. Ia menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat.
Setiap pagi, para petani menyusuri hutan pinus dengan membawa alat sederhana seperti deres semacam cangkul versi genggaman tangan, ember, dan tekad yang kuat.
Mereka menyadap batang pohon pinus dengan hati-hati, menciptakan luka kecil yang kemudian mengeluarkan getah berharga.
Meski tampak sepele, getah ini merupakan bahan baku penting untuk industri. Ia bisa diolah menjadi terpentin dan gondorukem.
Komponen dalam pembuatan cat, perekat, hingga produk farmasi. Namun bagi warga Pringapus, nilainya jauh lebih dari itu.
Baca Juga: Lebih dari 2.000 Toko Kelontong di Trenggalek Sudah Kantongi NIB
Getah pinus adalah sumber nafkah yang konsisten, terutama bagi petani yang tidak memiliki sawah luas atau sumber penghasilan lain.
Mereka bekerja dengan prinsip keberlanjutan. Menyadap tak boleh sembarangan. Harus bergiliran, tidak melukai pohon terlalu dalam, dan mengikuti jadwal yang sudah diatur bersama.
Prinsip ini sudah berlangsung secara turun-temurun. Selain karena hutan pinus merupakan aset negara yang dikelola oleh Perhutani, masyarakat pun sadar bahwa kelestarian alam adalah kunci dari mata pencaharian mereka sendiri.
Salah satu petani lokal, Syafii, menceritakan bahwa ia telah bekerja di hutan pinus selama lebih dari satu dekade. “Hasilnya ndak tentu, apalagi jagad gunjang-ganjing seperti ini. Tapi ya sudah disyukuri aja.” guyonnya.
Hutan pinus di Pringapus bukan hanya tempat kerja, tapi juga ruang hidup. Suasana sejuk, suara serangga dan burung, serta aroma khas getah yang menyengat menjadi bagian dari keseharian mereka. Dalam diamnya hutan, ada kehidupan yang terus bergerak. Pelan, tapi pasti. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom