Trenggaleknjenggelek - Perjuangan panjang Sarinah (75), warga Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, akhirnya mengantarkannya ke Tanah Suci.
Setelah 17 tahun menabung dari hasil berjualan jamu dan makanan ringan, ia resmi berangkat menunaikan ibadah haji pada musim haji 2025 ini.
Sarinah memulai perjuangannya sejak pensiun sebagai staf tata usaha SMK Karya Dharma di Desa Karangsoko pada 2007.
Sejak itu, niat berhaji menjadi semangat utama dalam menjalani hari-harinya. “Ini soal ibadah. Sejak pensiun saya punya niat berangkat haji,” ujar Sarinah.
Setiap hari, ia menjajakan makanan ringan seperti keripik tempe, keripik pisang, dan keripik mbote (ubi talas) dalam kemasan kecil.
Masing-masing dijual Rp 5.000 dengan keuntungan sekitar Rp 2.000 per bungkus. Selain itu, ia juga menawarkan jamu tradisional dalam bentuk sachet.
Barang dagangan itu ia pasarkan langsung ke sejumlah kantor instansi pemerintah di Trenggalek, seperti Polres, DPRD, BPS, Dinas PU, dan Rutan Kelas IIB.
Rata-rata, Sarinah mampu menjual 40 bungkus makanan ringan dan sekitar enam sachet jamu per hari.
“Kalau barang laku banyak, saya sisihkan untuk tabungan haji,” ucap ibu dua anak tersebut.
Aktivitasnya dimulai sejak subuh. Ia biasanya diantar anaknya yang berprofesi sebagai guru ke lokasi awal, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki dari satu kantor ke kantor lain, bahkan hingga sejauh tiga kilometer.
Jika dagangan belum habis, Sarinah akan terus berkeliling sebelum pulang naik bus dari Simpang Tiga Hotel Widowati.
Dengan pendapatan pensiun yang pas-pasan, Sarinah tetap konsisten menyisihkan hasil jualannya.
Ia berhasil mendaftar haji pada 2012 dan baru mendapat giliran berangkat pada 2025.
“Alhamdulillah, tahun ini saya berangkat haji,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri