Trenggaleknjenggelek - Merasa ada masalah pada pendidikan yang terjadi saat ini, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Trenggalek melangsungkan aksi demonstrasi.
Aksi demonstrasi tersebut dilangsungkan di depan Kantor DPRD Trenggalek pada Senin (5/5/2025).
Berdasarkan pantauan dari tim redaksi Trenggaleknjenggelek, massa aksi demonstrasi tersebut tiba dilokasi sekitar pukul 10.00 WIB.
Setibanya di lokasi, massa aksi langsung berorasi sembari memaparkan isu yang mereka bawa.
Tak hanya orasi, massa aksi juga melakukan dramatikal dengan tajuk penyimpangan yang terjadi di pendidikan saat ini.
Salah satu massa aksi menjelaskan bahwa setidaknya ada lima tuntutan yang mereka bawa.
"Jadi ada beberapa poin yang kami bawa terkait kasus-kasusnya. Pertama, ada korupsi pendidikan," tegas Koordinator Aksi, Genta Aditya Pranayan.
Poin selanjutnya adalah mahalnya biaya pendidikan dan pentingnya mewujudkan pendidikan gratis.
Ketiga adalah politisasi pendidikan dan ancaman kebebasan akademik. Adapun yang keempat adalah kekerasan seksual di lingkungan pendidikan
"Kelima adalah kualitas pendidikan yang justru menurun bukan malah naik," ujarnya.
Massa aksi juga menyoroti perihal penyalahgunaan dana BOS yang dialokasikan pada pembelian yang tidak menyentuh siswa.
"Contoh nyatanya ada dua buku yang barusan disusutkan untuk masuk anggaran dana BOS. Pertama buku tentang disiplin lalu lintas dengan harga Rp350.000. Kemudian yang kedua buku antikorupsi yang dijual sekitar Rp1.500.000," papar Genta.
Tingginya biaya pendidikan juga tak luput dari sorotan massa aksi.
"Sekolah negeri itu biasanya masih banyak pungutan-pungutan dari mulai biaya masuk, biaya wisuda dan untuk keperluan yang ada di sekolah lainnya," pungkasnya.
Perihal kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, Genta menyoroti bahwa kekerasan seksual masih terjadi di jenjang SMA hingga Universitas bahkan pondok pesantren. (kho)