Trenggaleknjenggelek - Trenggalek kembali menggeliat. Kali ini, geliat itu datang dari upaya serius memperkuat fondasi UMKM Trenggalek dan sektor pariwisatanya.
Dalam langkah konkret, pengusaha oleh-oleh kenamaan asal Bali, Ajik Krisna, datang langsung untuk menelusuri peluang kerja sama pengembangan wisata Trenggalek yang berbasis ekonomi kreatif dan potensi lokal.
Kedatangan Ajik Krisna disambut hangat di Bandara Internasional Juanda sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Trenggalek.
Tanpa seremoni panjang, pengusaha yang dikenal lewat jejaring Krisna Oleh-Oleh di Bali itu langsung meninjau kawasan strategis, terutama destinasi di Kecamatan Watulimo, guna melihat langsung potensi yang bisa dikembangkan bersama.
Kunjungan ini menandai dimulainya sinergi lintas daerah untuk memberdayakan UMKM Trenggalek lewat pendekatan yang lebih modern dan terintegrasi.
Bukan hanya menjual pesona alam, tetapi juga mengangkat nilai produk lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Salah satu agenda penting dalam kunjungan ini adalah meninjau rest area yang selama ini terbengkalai.
Rencana revitalisasi rest area ini diharapkan dapat menjadi simpul pergerakan ekonomi baru, terutama bagi pelaku UMKM sekitar.
Selain itu, Ajik juga dijadwalkan melakukan kurasi langsung terhadap produk-produk unggulan Trenggalek.
Dalam kurasi tersebut, Ajik akan mencicipi dan menilai produk UMKM yang dinilai potensial untuk dikembangkan melalui jaringan Krisna Bali.
Harapannya, produk khas Trenggalek tidak hanya dipasarkan di daerah sendiri, tetapi juga bisa dipasarkan secara lebih luas melalui jejaring oleh-oleh nasional.
Lebih dari sekadar revitalisasi fisik dan branding, inisiatif ini merupakan upaya menjadikan sektor wisata Trenggalek sebagai pintu masuk pemberdayaan ekonomi rakyat.
Dengan keterlibatan pelaku usaha berpengalaman, UMKM diharapkan bisa naik kelas—tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh dan berinovasi.
Gerakan ini menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata bisa terintegrasi dengan penguatan ekonomi lokal.
Ketika potensi digali bersama, ketika produk dinilai layak, dan ketika daerah bersiap terbuka, maka kebangkitan bukan lagi cita-cita, melainkan keniscayaan. (kho)