Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Bendoagung, Kampak, Trenggalek : Desa Tua Penuh Sejarah, Tanah Kelahiran Ibu Megawati Hangestri

Zaki Jazai • Kamis, 15 Mei 2025 | 14:44 WIB
Bintang voli nasional, Megawati Hangestri Pertiwi saat berkunjung ke Kampak, Trenggalek.
Bintang voli nasional, Megawati Hangestri Pertiwi saat berkunjung ke Kampak, Trenggalek.

Trenggaleknjenggelek – Di balik gemuruh prestasi Megawati Hangestri Pertiwi di dunia voli internasional, ada jejak tanah kelahiran yang mengakar kuat: Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek. Desa ini bukan hanya darah keturunan atlet nasional, tapi juga menyimpan sejarah panjang perjalanan pemerintahan dan pembangunan sejak sebelum Indonesia merdeka.

Sejarah Desa Bendoagung mencatat empat periode penting pemerintahan yang mencerminkan dinamika sosial-politik dari masa ke masa. Pada periode pertama, sebelum tahun 1920, wilayah ini terbagi menjadi tiga desa: Bendoagung, Kemiri, dan Kedungdowo.

Masing-masing dipimpin seorang lurah dan seorang carik, dengan figur-figur seperti Eyang Noyodrono, Eyang Nojodimejo, dan Eyang Donomejo yang menjadi pemimpin lokal kala itu.

Masuk periode kedua (1920–1929), Pemerintah Kolonial Belanda menggabungkan ketiga desa menjadi satu, yakni Desa Bendoagung. Setelah penggabungan, kepemimpinan desa beralih ke tokoh-tokoh seperti Eyang Salikin, Eyang Sapar Martojoyo, dan Eyang Ladimun. Masa ini menandai awal mula terbentuknya Bendoagung sebagai satu kesatuan administratif.

Periode ketiga (1929–1968) dilalui di tengah situasi sulit: masa penjajahan Belanda dan Jepang, serta awal kemerdekaan. Namun, di tengah keterbatasan, Eyang Suronadi memimpin desa selama 39 tahun, menjadi figur penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan desa.

Masuk ke periode keempat, dari tahun 1969 hingga sekarang, Desa Bendoagung mengalami era modernisasi. Paidi memimpin pembangunan awal dengan mendirikan balai desa, kantor desa, pasar desa, hingga SMP Negeri 1 Kampak. Disusul oleh Makrus yang membangun SMU Kampak dan tanggul sungai Tawing. Lalu kepemimpinan Sumaji (1998–2013) membawa program-program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat seperti PPK dan BLM, termasuk pasar hewan dan terminal MPU. Sejak 2013 hingga kini, Wahyu Widodo memimpin desa memasuki era digitalisasi.

Warisan Panjang, Generasi Baru

Desa Bendoagung bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga pusat peradaban lokal di Trenggalek bagian timur. Dari tanah ini, lahir generasi-generasi tangguh, termasuk Megawati Hangestri Pertiwi—sosok inspiratif yang membawa harum nama Indonesia di kancah voli internasional.

Keberhasilan Megawati bukan hanya cermin dari bakat pribadi, tetapi juga dari akar tradisi dan nilai perjuangan yang ditanamkan oleh desa yang sarat sejarah ini. Di tengah perkembangan zaman—dari era kolonial hingga digital—Bendoagung terus melahirkan generasi tangguh yang membawa harapan masa depan.

Sebagaimana tertulis dalam ringkasan sejarah desa, “semoga semangat pantang menyerah akan membawa kemajuan dan kemakmuran Desa Bendoagung.” Semangat itu kini hidup dalam diri putri terbaiknya—Megawati Hangestri—dan warga desa yang terus membangun peradaban dari kampung kecil yang penuh sejarah ini.(jaz) 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#kampak #kabupaten trenggalek #Megawati Hangestri