Trenggaleknjenggelek – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti tingginya potensi bencana tanah longsor di wilayah selatan Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Trenggalek.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram resminya, menyusul peristiwa longsor yang menimbun enam warga di Desa Depok, Kecamatan Bendungan.
"Memang wilayah di selatan ini rawan karena kontur pegunungan dengan jenis tanah yang mengembang saat terkena air," kata Emil melalui akun Instagram resmi miliknya.
Berdasarkan kondisi tersebut, pihaknya berupaya berkoordinasi untuk membahas hasil kajian data desa terkait longsor dalam beberapa tahun terakhir.
"Maka tindak lanjutnya, kita koordinasikan dengan kepala desa berdasarkan data desa yang dalam beberapa tahun terakhir pernah melaporkan longsor," ujar Emil dalam keterangannya.
Ia menuturkan, karakteristik tanah di kawasan rawan longsor berbeda-beda.
Mulai dari struktur tebing yang mudah longsor hingga dataran yang berada langsung di bawah lereng.
“Tipe-tipenya itu, tanah tiba-tiba terbuka, dan longsor terjadi secara tiba-tiba,” jelas mantan Bupati Trenggalek itu.
Emil juga menekankan pentingnya data rumah-rumah warga yang telah masuk dalam daftar kandidat relokasi.
Menurutnya, beberapa rumah dibangun di atas tanah tidak stabil dan bahkan telah menunjukkan adanya rongga terbuka, indikasi kuat risiko longsor.
“Daftar rumah rawan ini akan segera diidentifikasi hari ini. Kepala Dinas PU SDA juga akan berkoordinasi dengan ahli geologi untuk mengkaji kondisi mahkota longsor di Desa Depok, Trenggalek,” imbuh Emil.
Sementara itu, proses pencarian terhadap enam korban yang masih tertimbun terus dilakukan tim SAR gabungan.
Berdasarkan penciuman empat ekor anjing pelacak, tim berhasil mengidentifikasi tiga titik potensial lokasi tertimbunnya korban.
Tiga titik tersebut berada di sekitar reruntuhan lima rumah yang kini telah rata tertutup material longsor. Kedalaman titik-titik tersebut diperkirakan mencapai 10 meter.
Adapun keenam korban yang masih dicari merupakan satu keluarga, yakni Mesinem (90), Nitih (36), Tulus (65), Yatini (50), Yatiem (70), dan seorang balita bernama Torik (2).
Hingga saat ini, proses evakuasi masih dilakukan dengan melibatkan Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan SAR.
Bencana tanah longsor ini terjadi setelah hujan deras mengguyur Desa Depok pada Senin (19/5/2025).
Lokasi kejadian berada tepat di bawah lereng perbukitan dengan kontur tanah yang labil. (kho)