Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pemprov Jatim Fokus Mitigasi Bencana Jangka Panjang di Trenggalek, Empat Korban Tanah Longsor Masih dalam Pencarian

Zaki Jazai • Sabtu, 24 Mei 2025 | 13:53 WIB
Tim SAR gabungan mencari empat korban tanah longsor di Desa Depok, Bendungan, Trenggalek
Tim SAR gabungan mencari empat korban tanah longsor di Desa Depok, Bendungan, Trenggalek

Trenggaleknjenggelek – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk melakukan mitigasi bencana jangka panjang pasca longsor yang terjadi di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyoroti pentingnya langkah-langkah struktural dan kebijakan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan penanganan darurat. Harus ada pendekatan jangka panjang, termasuk penguatan infrastruktur, identifikasi struktur tanah, hingga penyusunan kebijakan relokasi demi keselamatan warga," tegas Emil Dardak. 

Longsor di Trenggalek ini mengakibatkan enam orang tertimbun. Hingga hari kelima pencarian, baru dua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, yaitu Mesinem (90) dan anaknya Yatemi (70). Proses pencarian sempat terkendala cuaca hujan dan kondisi tanah yang labil.

Emil menyebut bahwa langkah cepat sedang dilakukan, termasuk koordinasi dengan para kepala desa dan pelibatan ahli geologi untuk mendapatkan gambaran teknis mengenai kondisi tanah di lokasi terdampak.

"Dalam waktu dekat Dinas PUSDA akan berkomunikasi dengan para ahli geologis untuk mengevaluasi kontur dan kerawanan tanah. Ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan relokasi dan penguatan wilayah rawan longsor," jelas mantan Bupati Trenggalek itu.

Ia menambahkan bahwa tingkat kerawanan bencana longsor di wilayah selatan Jawa Timur, termasuk Trenggalek, cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kontur pegunungan dan jenis tanah ekspansif yang mudah bergerak saat terpapar air hujan.

“Jenis tanahnya ekspansif, kalau kena air bisa mengembang dan memicu pergerakan tanah. Ini yang membuat risiko longsor semakin besar,” tambah Emil.

Selain Trenggalek, beberapa daerah lain di Jawa Timur seperti Lumajang, Pasuruan, Tulungagung, Ponorogo, dan Blitar juga sedang dalam penanganan bencana serupa. Sementara dua titik, yaitu Sampang dan Mojo, Kediri, telah dinyatakan selesai penanganannya oleh Basarnas.

Langkah jangka pendek Pemprov saat ini adalah menginventarisasi desa-desa yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami longsor. Emil menegaskan perlunya kewaspadaan di rumah-rumah yang masuk daftar kandidat relokasi karena berada di atas tanah tidak stabil.

“Sudah ada daftar rumah yang jadi kandidat relokasi, karena tanahnya sudah menunjukkan instabilitas. Bahkan di beberapa kabupaten sudah terdeteksi adanya rongga tanah terbuka,” ungkapnya.

Mitigasi jangka panjang yang disiapkan Pemprov Jatim ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah darurat, tetapi juga membangun sistem ketahanan wilayah terhadap bencana geologis di masa mendatang.(jaz) 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#mitigasi bencana #trenggalek #tanah longor #Pemerintah Provinsi Jawa Timur