Trenggaleknjenggelek – Pemerintah Kabupaten Trenggalek masih melanjutkan masa tanggap darurat bencana tanah longsor di Dusun Kebonagung, Desa Depok, Kecamatan Bendungan.
Hingga Senin (2/6/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek memfokuskan upaya pada pemulihan infrastruktur dan pencarian harta benda milik warga.
Enam korban yang sebelumnya tertimbun tanah longsor telah ditemukan.
Meski begitu, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, menyebut proses pemulihan belum berhenti.
Penanganan pasca bencana terus dilakukan, termasuk perbaikan tiang listrik, pembersihan material longsor, serta pencarian barang-barang milik warga yang tertimbun.
“Proses tanggap darurat dan berbagai perbaikan pada masa transisi ini sudah kita mulai, sejak operasi SAR dihentikan,” ujar Triadi, Selasa (27/5/2025).
BPBD menerima laporan dari warga mengenai sejumlah barang yang masih tertimbun, seperti sepeda motor dan mesin penggiling padi. Pencarian masih berlangsung di area terdampak.
“Masih proses pencarian dan evakuasi. Saat ini fokus perbaikan infrastruktur,” lanjutnya.
Pihaknya juga tengah mempersiapkan rencana relokasi bagi dua kepala keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Kedua keluarga tersebut, yakni milik Tarmi dan Prayit, akan menempati lahan yang disediakan oleh pihak keluarga di RT 15 Desa Depok.
“Yaitu persiapan lahan untuk dua kepala keluarga terdampak yakni Tarmi dan Prayit, juga sedang dipersiapkan. Lahan telah disediakan oleh keluarganya di RT 15, Desa Depok Bendungan Trenggalek, sehingga mereka dapat tinggal berdekatan dengan sanak saudara,” jelas Triadi.
Sementara itu, sebanyak 138 jiwa tercatat sebagai penyintas bencana.
Namun, hanya sekitar 26 hingga 50 jiwa yang tinggal di posko pengungsian.
Sisanya memilih mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman saat hujan turun.
Warga yang masih bertahan di posko umumnya adalah mereka yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan berada di sekitar titik longsor.
Pemerintah desa bersama BPBD juga masih melakukan pendataan terhadap rumah yang mengalami kerusakan, untuk menentukan langkah distribusi bantuan secara tepat.
“Juga sedang dilakukan untuk menentukan langkah penyaluran bantuan yang tepat. Ada yang rumah rusak ringan, kemudian yang sedang, maupun berat,” kata Triadi.
“Data hasil asesmen dari tim di lapangan diharapkan segera dapat dirampungkan,” sambungnya.
Proses pembersihan akses jalan yang sebelumnya tertutup longsoran juga terus dilakukan.
Selain dukungan alat berat BPBD, warga RT 18 dan RT 19 turut bergotong royong membuka jalur ekonomi dan pendidikan.
“Saat ini bisa dilakukan pembersihan menggunakan alkon yang kita siapkan di dua titik. Targetnya, jalur tersebut termasuk jalur perekonomian warga, termasuk akses menuju sekolah, dapat segera digunakan sebelum masa tanggap darurat berakhir," pungkas Triadi. (kho)