Trenggaleknjenggelek – Pemerintah Kabupaten awalnya berencana Trenggalek untuk membangun Sekolah Rakyat gratis di kawasan Agrowisata Dilem Wilis, Kecamatan Bendungan, menuai beragam respons dari masyarakat.
Sebagian warga mempertanyakan alasan pemilihan lokasi di kawasan pegunungan, sementara terdapat bangunan Rusunawa Prigi di Kecamatan Watulimo yang saat ini tidak digunakan.
Menurut sejumlah warga, akan lebih efisien jika pemerintah memanfaatkan bangunan yang sudah ada, seperti Rusunawa Prigi yang dibangun menggunakan anggaran APBN namun kini terbengkalai.
Mereka menilai langkah itu dapat menghemat anggaran pembangunan fasilitas pendidikan baru.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menjelaskan bahwa penggunaan Rusunawa Prigi sebagai sekolah masih terkendala oleh status hukum dan fungsi awal bangunan tersebut.
“Kementerian PUPR bangun Rusunawa Prigi itu untuk relokasi warga Kampung Baru, yang dulunya menempati lahan aset pemerintah daerah. Hingga saat ini, warga Kampung Baru belum bersedia pindah ke rusunawa tersebut. Jadi, sebelum ada penyelesaian terkait hal itu, rusunawa belum bisa di alihfungsikan,” terang Doding, Senin (26/5/2025).
Ia menegaskan bahwa meskipun tampak tak terpakai, secara legal Rusunawa Prigi diperuntukkan sebagai hunian tetap bagi warga, bukan fasilitas pendidikan.
Selain itu, alih fungsi aset milik pemerintah harus melalui mekanisme dan persetujuan dari sejumlah instansi terkait.
“Jika kita paksakan menjadi sekolah tanpa status yang jelas, hal ini justru berpotensi menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Jadi, ini bukan masalah tidak mau memanfaatkan, tetapi memang ada prosedur yang harus kita lalui,” jelasnya.
Karena pertimbangan tersebut, Pemkab Trenggalek memutuskan untuk memanfaatkan gedung Disperinaker.
Proyek ini juga menjadi bagian dari rencana pengembangan wilayah pegunungan, yang selama ini masih minim fasilitas pendidikan formal.
Sekolah Rakyat nantinya akan beroperasi secara gratis dengan pembiayaan dari APBN.
Pada tahap awal, sekolah ini akan membuka tiga rombongan belajar (rombel) untuk jenjang SMP dan empat rombel untuk jenjang SMA. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri