TRENGGALEK NJENGGELEK - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang Sekolah Dasar (SD) di Trenggalek tahun ini memunculkan kisah menyedihkan.
Sebanyak 21 SD negeri di Trenggalek dilaporkan hanya menerima kurang dari tiga siswa baru, bahkan satu sekolah tercatat tidak mendapatkan murid sama sekali.
Baca Juga: SPMB Jatim Jalur Domisili Terakhir Jumat, Peserta Harus Cermat Pilih Sekolah
Berdasarkan pantauan portal resmi spmb.trenggalekkab.go.id, sekolah yang mengalami kondisi paling memprihatinkan adalah SDN 3 Sumurup di Kecamatan Bendungan.
Padahal sekolah ini memiliki kuota hingga 28 kursi, namun belum terisi hingga SPMB berakhir.
Baca Juga: Guru di Trenggalek Resah Seminar Daring Rp 200 Ribu: Takut Protes karena Ada 'Restu Dinas'
Hingga penutupan pendaftaran dan pengumuman hasil akhir, sekolah tersebut tidak mendapatkan satu pun pendaftar, menjadikannya sekolah dengan jumlah siswa baru nol.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Trenggalek, Tanto Riyadi, membenarkan adanya sejumlah sekolah yang tidak mampu memenuhi pagu siswa dalam proses penerimaan tahun ini.
"Untuk sekolah-sekolah tertentu, terutama di daerah pinggiran, memang potensi peserta didik sangat terbatas. Ini menjadi dilema karena jika sekolah ditutup, potensi ATS (Anak Tidak Sekolah) justru bisa meningkat," jelasnya, Kamis (26/6).
Tanto menambahkan pihaknya masih menunggu proses daftar ulang sebelum memastikan apakah jumlah siswa tersebut final.
Baca Juga: Pemerataan Sekolah Jadi Kunci Utama Pendidikan Bermutu
“Kami masih menunggu hasil dari daftar ulang, karena bisa jadi ada perubahan. Jika tetap sama, maka akan ada mekanisme distribusi siswa,” terangnya.
Meskipun tahap utama SPMB telah ditutup, Disdikpora Trenggalek memastikan masih ada peluang bagi sekolah untuk mendapatkan siswa tambahan.
Hal ini akan dilakukan melalui distribusi anak-anak yang belum mendapatkan sekolah ke SD negeri terdekat yang belum terpenuhi kuotanya.
"SPMB tentu tidak akan dibuka lagi, tapi sesuai regulasi, siswa yang belum mendapatkan sekolah akan kami distribusikan," imbuh Tanto.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak akan ada penutupan sekolah negeri, karena Bupati Trenggalek telah mengeluarkan kebijakan larangan penutupan SD negeri demi menjamin akses pendidikan dasar bagi seluruh warga.
Di sisi lain, meskipun proses SPMB jenjang SD tahun ini sepenuhnya berbasis daring, pelaksanaannya dianggap berjalan lancar.
Beberapa orang tua wali murid yang mengalami kendala teknis dalam pendaftaran daring juga dibantu langsung pihak sekolah.
"Kami sudah sediakan layanan bantuan teknis di tiap sekolah tujuan. Jadi prosesnya tetap berjalan dengan baik," ujarnya.
Meski demikian, Disdikpora Trenggalek akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses SPMB 2025, terutama menyangkut pola sebaran penduduk usia sekolah dan efektivitas sistem zonasi yang diterapkan.
"Pertimbangannya ATS Trenggalek ini masih tinggi, kalau ditutup maka akses ke sekolah akan semakin jauh dan ini bisa meningkatkan jumlah anak yang tidak sekolah," tandasnya.