Trenggaleknjenggelek - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) Kecamatan Watulimo, bersama Pemerintah Desa, komunitas Geneman Watulimo, dan masyarakat setempat, melaksanakan kegiatan perampingan pohon bambu di sepanjang ruas Jalan Sebo–Kampak, Kecamatan Watulimo, pada Senin (30/6). Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan potensi gangguan keselamatan pengguna jalan yang kerap disebabkan oleh rimbunnya vegetasi di tepi jalan.
Pohon-pohon bambu yang menjulur ke badan jalan dinilai berpotensi membahayakan pengendara, terutama saat malam hari atau ketika kondisi cuaca buruk mengurangi jarak pandang. Selain itu, rimbunnya bambu juga dikhawatirkan dapat menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas akibat tertutupnya pandangan pengguna jalan terhadap kendaraan dari arah berlawanan.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi mitigasi non-struktural yang dikedepankan oleh pihaknya dalam menjaga keselamatan masyarakat.
"Kegiatan perampingan bambu ini adalah bentuk langkah antisipatif. Kami tidak hanya fokus pada penanganan bencana setelah kejadian, tapi juga bagaimana mencegah potensi bencana dari hal-hal yang tampaknya sepele namun bisa berdampak besar, seperti vegetasi liar di sepanjang jalur padat lalu lintas," jelas Triadi.
Menurutnya, wilayah Kecamatan Watulimo yang memiliki kontur jalan sempit dan berliku, dengan banyak sisi jalan dikelilingi vegetasi lebat, memang memiliki kerawanan tersendiri. Oleh karena itu, pemangkasan pohon dan tanaman seperti bambu menjadi sangat penting untuk menghindari risiko jatuhnya ranting atau pohon tumbang, serta mencegah gangguan visibilitas bagi pengendara.
Triadi juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan giat ini, mulai dari perangkat desa, komunitas lokal seperti Geneman Watulimo, hingga warga sekitar yang bergotong royong dalam proses perampingan.
"Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat. Kesadaran kolektif seperti ini yang perlu terus kita bangun," tambahnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin di wilayah lain yang memiliki potensi risiko serupa, sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman, tertib, dan berkelanjutan.
"Kami mengajak seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di dekat jalur utama dan lereng perbukitan, untuk lebih proaktif dalam menjaga lingkungannya. Kalau ada pohon besar atau tanaman menjulur ke jalan, bisa langsung dilaporkan agar bisa segera ditindaklanjuti bersama," pungkas Triadi.
Dengan langkah preventif seperti ini, BPBD Trenggalek terus menunjukkan komitmennya untuk mengurangi risiko bencana sekaligus memperkuat ketahanan wilayah, melalui pendekatan yang berbasis pada gotong royong dan kepedulian masyarakat.(jaz)