Trenggaleknjenggelek – Cuaca kemarau basah yang melanda Kabupaten Trenggalek membawa dua sisi mata uang bagi sektor pertanian.
Di satu sisi, air yang melimpah membuka peluang peningkatan produktivitas padi. Namun di sisi lain, banjir serta serangan hama juga mengintai petani di berbagai kecamatan.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, mengungkapkan bahwa pola cuaca kemarau basah tahun ini ditandai dengan pagi yang cerah, diikuti hujan deras pada sore hingga malam hari.
Kondisi ini sangat memengaruhi aktivitas pertanian, terutama tanaman padi.
"Kita masih dihadapkan pada iklim kemarau basah yang di mana kemarau basah ini secara umum mempunyai ciri khas paginya cerah, kemudian sorenya hujan sampai malam, pagi cerah lagi, dan ini sangat berkaitan dengan dunia pertanian," ujar Imam, Selasa (1/7/2025).
Data yang dihimpun Dinas Pertanian mencatat, sebanyak lebih dari 400 hektar sawah terdampak banjir selama medio April hingga Mei 2025.
Dari luasan tersebut, sekitar 29 hektar mengalami puso atau gagal panen. Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Trenggalek, Pogalan, Gandusari, Durenan, Watulimo, Panggul, hingga Munjungan.
"Kebetulan (yang terdampak) waktu itu masih uritan, masih pembibitan, sehingga kami bantu terkait dengan bibit padi yang kena dampak tersebut," terang Imam.
Selain genangan air, petani juga dihadapkan pada serangan penyakit tanaman. Genangan banjir membuat lahan sawah lebih rentan terhadap hama wereng, sundep, dan potong leher.
Dinas Pertanian pun telah mengaktifkan tim pengamat lapangan untuk melakukan gerakan pengendalian di titik-titik rawan.
"Tentu saja sudah kami amati, perkembangannya sudah mulai bagus terutama untuk wereng maupun potong leher. Namun demikian, karena sifatnya potong leher itu harus preventif, jadi kita harus dari awal benar-benar untuk terkait dengan hama potong leher ini," lanjutnya.
Meski begitu, kemarau basah bukan tanpa sisi positif. Imam optimistis pola tanam di Trenggalek bisa terdorong lebih intensif.
Dari laporan Masa Tanam (MT) ke-2, sebanyak 90 persen petani masih memilih menanam padi. Hal ini memberi harapan bagi peningkatan Indeks Pertanaman (IP) yang sebelumnya berada pada angka 2,1.
"Harapan kami di MT 3 yang mungkin waktunya akan maju, teman-teman petani masih menanam padi, sehingga sampai dengan akhir periode 2025 IP kita akan bertambah menjadi 2,5 dari yang sebelumnya 2,1," tutupnya. (kho)