Trenggaleknjenggelek – Kabar baik menyapa petani di Kabupaten Trenggalek.
Perum Bulog mulai menyerap gabah kering panen (GKP) dari hasil produksi lokal dengan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Kebijakan ini disambut antusias para petani yang tengah memasuki masa panen.
Baca Juga: Kebakaran Penggilingan Padi di Kendalrejo Trenggalek Timbulkan Kerugian Capai Rp80 Juta
Langkah penyerapan tersebut mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 yang dikeluarkan Presiden Prabowo Subianto, sebagai pedoman bagi Bulog dan pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan serta kemandirian pangan nasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, mengungkapkan bahwa kondisi ketahanan pangan di daerahnya, khususnya untuk komoditas padi dan jagung, berada dalam kondisi aman.
“Produktivitas dan produksi kita menunjukkan angka yang signifikan. Gerakan serapan gabah bersama Bulog dan TNI juga berjalan sinergis,” jelas Imam saat dikonfirmasi, Minggu (6/7/2025).
Imam menambahkan, panen musim tanam kedua (MT2) yang diproyeksikan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2025 diperkirakan lebih melimpah.
Untuk mendukung kelancaran penyerapan, Bulog bahkan telah menyiapkan gudang baru di wilayah Kecamatan Karangan.
“Harga HPP sebesar Rp 6.500 per kilogram ini sangat menguntungkan bagi petani. Bahkan di lapangan, harga di tingkat petani bisa mencapai Rp 6.800 hingga Rp 7.000 per kilogram,” paparnya.
Salah satu contoh datang dari wilayah Karanganom, Kecamatan Durenan, di mana harga gabah sudah menembus angka Rp 6.800 per kilogram.
Imam mengaku mendapat laporan bahwa beberapa petani bahkan dibayar secara tunai saat menjual hasil panennya ke Bulog.
Namun, ia menyarankan agar para petani tetap berkoordinasi dengan Bulog untuk memastikan teknis pembayaran.
Dengan harga yang terus membaik dan dukungan dari pemerintah pusat serta daerah, para petani Trenggalek kini menyambut musim panen dengan rasa optimis dan penuh harapan. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri