Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

‎Cuaca Ekstrem Melanda Laut Selatan Trenggalek, Nelayan Prigi Terpaksa Menganggur di Musim Ikan

Akhmad Nur Khoiri • Selasa, 8 Juli 2025 | 02:15 WIB

Laut selatan digempur cuaca ekstrem, nelayan tidak bisa melaut.
Laut selatan digempur cuaca ekstrem, nelayan tidak bisa melaut.

Trenggaleknjenggelek – Cuaca buruk kembali menerjang kawasan pesisir selatan Trenggalek.

Gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda Samudera Hindia sejak beberapa bulan terakhir memaksa ratusan nelayan di Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, untuk berhenti melaut.

Ironisnya, fenomena ini terjadi justru saat musim ikan tengah berlangsung.

Baca Juga: ‎Petani Trenggalek Sumringah, Bulog Serap Gabah Rp 6.500 per Kg Sesuai Inpres Prabowo

‎Salah satu nelayan setempat, Mamat, mengungkapkan bahwa gelombang di perairan lepas bisa mencapai ketinggian 4 hingga 5 meter.

Kondisi itu makin parah sejak dua bulan terakhir, menyebabkan aktivitas penangkapan ikan lumpuh total.

Baca Juga: Kebakaran Penggilingan Padi di Kendalrejo Trenggalek Timbulkan Kerugian Capai Rp80 Juta

‎“Sudah empat bulan cuaca di Teluk Prigi memburuk, dan dua bulan terakhir ini benar-benar ekstrem. Tidak ada yang berani melaut,” ujar Mamat, Senin (7/7/2025).

‎Ia menuturkan bahwa cuaca mulai memburuk sejak Maret hingga April, namun nelayan masih bisa memaklumi karena memang belum memasuki musim ikan.

Ketika memasuki bulan Mei hingga Juni—yang seharusnya menjadi masa panen raya laut—kondisi justru memburuk dan menghalangi nelayan untuk melaut.

‎“Seharusnya sekarang ini masa panen raya ikan, bulan Mei ikan mulai muncul dan puncaknya Juni. Tapi karena ombak besar dan angin kencang, kami tidak bisa kerja sama sekali,” tambah Mamat yang biasa melaut dengan kapal Purse Seine.

‎Tak hanya satu dua kapal, Mamat menyebut ada ratusan nelayan di Prigi yang terdampak langsung.

Jumlah kapal Purse Seine saja mencapai 137 unit, belum termasuk kapal tonda dan pancing ulur yang juga tak bisa melaut akibat cuaca ekstrem.

‎Mamat mengaku heran dengan kondisi ini. Menurutnya, cuaca di pertengahan tahun biasanya cenderung tenang dan bersahabat bagi nelayan.

Kini, ia dan nelayan lain hanya bisa menunggu kondisi laut kembali normal, tanpa tahu kapan itu akan terjadi.

‎Lebih memprihatinkan, sebagian besar nelayan di Kecamatan Watulimo tidak memiliki pekerjaan alternatif.

“Sebagian mungkin masih bisa bertani, tapi banyak juga yang hanya bergantung pada laut. Jadi ya, benar-benar menganggur,” pungkasnya.

‎Fenomena cuaca ekstrem ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan anomali cuaca bisa berdampak langsung pada ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.

Hingga kini, belum ada kepastian kapan kondisi laut selatan akan kembali bersahabat bagi para nelayan Trenggalek. (kho)

Marcus Rashford
Marcus Rashford
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#nelayan #cuaca ekstrem #ikan #laut selatan