TRENGGALEK JENGGELEK – Musim kemarau di Trenggalek kembali memunculkan fenomena alam yang tak asing bagi warga dataran tinggi yakni bediding, kondisi suhu udara yang sangat dingin pada malam dan pagi hari.
Fenomena bediding biasanya terjadi antara Juni hingga Agustus, terutama di kawasan pegunungan seperti Bendungan, Pule, dan Dongko. Meskipun di dataran rendah juga bisa merasakan.
Baca Juga: Fenomena Bediding, Malam di Jatim Kian Dingin, Masih Akan Terasa Hingga Agustus
Suhu udara yang menurun drastis kerap memicu embun beku atau frost. Kondisi ini tak hanya membuat warga menggigil kedinginan, tapi juga berdampak serius bagi sektor pertanian.
Tanaman yang terkena embun beku bisa mengalami kerusakan jaringan daun dan batang, sehingga menghambat pertumbuhan, bahkan menyebabkan kematian tanaman.
Suhu dingin ekstrem akibat bediding menyebabkan kerusakan struktural pada tanaman. Embun beku yang menempel pada permukaan daun dan batang dapat membekukan jaringan tanaman.
Baca Juga: Warga Trenggalek Merasakan Fenomena Bediding, Tanda Musim Kemarau Telah Tiba
Akibatnya, tanaman menjadi layu, berhenti tumbuh, dan hasil panen bisa menurun drastis. Jika tanaman utama mati, siklus tanam berikutnya pun bisa terganggu, memicu kerugian jangka panjang bagi petani.
Untuk mengatasi ancaman bediding, berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan petani di Trenggalek:
1. Menutup Tanaman Saat Malam Hari
Gunakan plastik transparan atau kain penutup pada malam hari untuk melindungi tanaman dari embun beku.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Melanda Laut Selatan Trenggalek, Nelayan Prigi Terpaksa Menganggur di Musim Ikan
Penutup ini berfungsi sebagai insulasi, menjaga suhu tetap hangat, dan mengurangi dampak angin dingin yang mempercepat pendinginan tanaman.
2. Penyiraman yang Cukup dan Tepat Waktu
Air berperan penting dalam menjaga kelembapan tanah dan mendukung metabolisme tanaman. Siram tanaman pada pagi hari agar tanaman menyerap air dengan baik sebelum suhu kembali turun.
3. Waspadai Serangan Hama dan Penyakit
Tanaman yang stres akibat dingin lebih rentan terhadap serangan hama. Gunakan pestisida alami, lakukan rotasi tanaman, dan terapkan pengendalian hama terpadu untuk mencegah penyebaran penyakit.
4. Pantau Prakiraan Cuaca dari BMKG
BMKG menyediakan informasi terkini tentang suhu dan potensi frost. Gunakan aplikasi cuaca untuk mendapat pembaruan real-time agar bisa segera mengambil tindakan pencegahan.
5. Berikan Nutrisi Tambahan
Tanaman yang sehat lebih tahan terhadap suhu ekstrem. Berikan pupuk dan nutrisi yang cukup, terutama yang bersifat organik, untuk memperkuat daya tahan tanaman.
6. Konsultasi dengan Agronomis dan Petani Lain
Petani disarankan untuk berkonsultasi dengan penyuluh pertanian atau agronomis untuk mendapatkan solusi teknis yang sesuai kondisi lokal.
Dukungan ini penting untuk menjaga produktivitas tetap optimal meski menghadapi cuaca ekstrem.
7. Rancang Strategi Adaptasi Jangka Panjang
Petani juga perlu beradaptasi dengan perubahan iklim jangka panjang. Pilih varietas tanaman yang tahan dingin, sesuaikan jadwal tanam, dan kelola sumber daya air secara berkelanjutan.
Fenomena Tahunan yang Bisa Diantisipasi
Bediding adalah fenomena musiman yang rutin terjadi setiap kemarau. Dengan memahami polanya, petani dapat melakukan mitigasi sejak dini.
Perencanaan tanam yang tepat, pemantauan cuaca, serta perlindungan tanaman menjadi kunci menghadapi tantangan ini.
Trenggalek sebagai daerah agraris di lereng pegunungan wajib bersiap menghadapi dampak bediding.
Melalui edukasi, kolaborasi, dan penerapan teknologi, diharapkan sektor pertanian tetap bertahan meski cuaca ekstrem datang silih berganti.
Editor : Dharaka R. Perdana