Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Alasan Wilayah Trenggalek Mengalami Fenomena Bediding, Suhu Turun hingga 17 Derajat Celcius

Zaki Jazai • Minggu, 13 Juli 2025 | 16:45 WIB
Ilustrasi fenomena Bediding yang terjadi di Trenggalek
Ilustrasi fenomena Bediding yang terjadi di Trenggalek

Trenggaleknjenggelek – Suhu udara di Trenggalek dan sejumlah wilayah Jawa Timur terasa lebih dingin dalam beberapa hari terakhir, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal masyarakat lokal sebagai bediding—hawa dingin khas musim kemarau yang kembali terasa seiring masuknya bulan Juli.

Pantauan di beberapa kecamatan menunjukkan suhu udara dini hari berkisar antara 17 hingga 20 derajat Celcius. Kondisi ini membuat sebagian warga memilih mengenakan jaket tebal atau selimut, bahkan saat beraktivitas di dalam rumah.

“Beberapa hari ini pagi-pagi terasa seperti di pegunungan. Air mandi juga lebih dingin dari biasanya,” ujar warga di Desa Senden, Kecamatan Kampak, Wawan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena bediding merupakan kejadian alami yang umum terjadi pada musim kemarau. Penurunan suhu ini bukan akibat Aphelion—yakni posisi tahunan bumi yang paling jauh dari matahari—melainkan karena sejumlah faktor meteorologis khas musim kemarau.

BMKG menyebutkan tiga penyebab utama suhu dingin ini:

1. Angin Monsun Timuran dari arah Australia yang bersifat kering dan membawa udara dingin ke wilayah selatan khatulistiwa.

2. Langit cerah di malam hari mempercepat pelepasan panas dari permukaan tanah, menyebabkan suhu permukaan turun drastis.

3. Hujan sporadis di beberapa daerah membawa massa udara dingin dan menghambat pemanasan siang hari oleh sinar matahari.

Kondisi serupa juga pernah terjadi pada bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, seperti Juli 2022 dan Juli 2023. Karena itu, BMKG menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

“Cuaca dingin yang dirasakan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, merupakan hal yang wajar dan terjadi setiap musim kemarau, yakni sekitar bulan Juli hingga September,” tulis BMKG melalui akun Instagram @infobmkg.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Konsumsi makanan hangat, istirahat cukup, serta membatasi aktivitas luar ruangan pada malam dan dini hari menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah percaya pada informasi keliru terkait fenomena cuaca, dan disarankan memantau perkembangan resmi melalui situs BMKG atau aplikasi dan media sosial resmi BMKG.

Dengan suhu yang diperkirakan masih rendah dalam beberapa pekan ke depan, warga Trenggalek diingatkan untuk menyesuaikan aktivitas harian agar tetap nyaman dan sehat selama musim kemarau berlangsung. (Jaz)

 

 

 

 

HANCUR: Kondisi sepeda angin MTB milik korban yang rusak diduga usai terserempet pikap. (IST/RADAR SURABAYA)
HANCUR: Kondisi sepeda angin MTB milik korban yang rusak diduga usai terserempet pikap. (IST/RADAR SURABAYA)
Editor : Zaki Jazai
#bediding #suhu udara #trenggalek