Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

37 Kabupaten/Kota di Jatim Harus Siap Atasi Bencana, Pentingnya Sinergi dan Mindset Kesiapsiagaan

Zaki Jazai • Selasa, 22 Juli 2025 | 02:05 WIB
Gubernur Jatim saat mengunjungi posko pengungsian korban bencana tanah longsor di Trenggalek.
Gubernur Jatim saat mengunjungi posko pengungsian korban bencana tanah longsor di Trenggalek.

Trenggaleknjenggelek — Seluruh daerah di Jawa Timur, khususnya 37 kabupaten/kota, harus memiliki kesiapsiagaan yang merata dan mampu bergerak cepat dalam menghadapi bencana. Hal itu terkuak dalam kegiatan Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh BPBD Provinsi Jawa Timur di Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Senin (21/7/2025).

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan hanya urusan peralatan, tetapi menyangkut pola pikir, kerja sama lintas sektor, serta komitmen untuk menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas tertinggi.

“Seluruh daerah, dari pesisir hingga pegunungan, harus siap. Ini bukan hanya soal alat, tapi juga soal mindset dan sinergi. Karena ketika bencana terjadi, yang paling menentukan adalah kecepatan dan koordinasi,” ujar Emil. 

Sebanyak 37 BPBD kabupaten/kota turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka menampilkan berbagai peralatan, teknologi deteksi dini, serta simulasi taktis dalam merespons kondisi darurat. Tenda-tenda peserta berdiri di area pameran, menampilkan kesiapan daerah menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga gempa bumi.

Lebih dari sekadar evaluasi logistik, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Sinergi ini sangat penting, khususnya bagi daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya saat menghadapi bencana.

Emil menambahkan, pendekatan penanggulangan bencana harus berlandaskan pada empat prioritas pengurangan risiko sebagaimana diatur dalam Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. Empat prioritas tersebut meliputi pemahaman risiko, penguatan tata kelola, investasi pengurangan risiko, serta kesiapsiagaan dan pemulihan pascabencana.

“Kita tidak bisa kerja sendiri. Semangat gotong royong dan jaringan antardaerah adalah kunci. Maka kegiatan ini adalah simbol komitmen kita bersama membangun Jawa Timur yang tangguh dan adaptif,” tutur Emil.

Pemerintah Provinsi berharap, kegiatan ini bisa menjadi titik tolak memperkuat sistem penanggulangan bencana di seluruh kabupaten/kota. Diharapkan pula bahwa kolaborasi ini terus berlanjut dalam bentuk peningkatan kapasitas, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan aktif masyarakat.

“Terima kasih atas seluruh dukungan dari berbagai pihak. Mari kita terus bergerak bersama, saling memperkuat, dan menjaga keselamatan rakyat sebagai panggilan tertinggi,” pungkas Emil.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengukur kesiapan personel dan peralatan, menjadi forum koordinasi strategis lintas instansi, serta meningkatkan kapasitas SDM dan relawan.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh daerah memiliki kesiapan yang tidak timpang. Dengan gelar peralatan ini, kita bisa melihat peta kekuatan daerah dan membangun jaringan kerja yang kuat sebagai modal saat tanggap darurat,” tegas Gatot.(jaz) 

 

 

 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#bencana #Kesiapsiagaan #Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak