Trenggaleknjenggelek - Musim ikan bukan sekadar soal kalender atau cuaca cerah. Di pesisir selatan Jawa Timur, tepatnya di Trenggalek, musim ikan menjadi bagian dari pengetahuan turun-temurun yang diwariskan para nelayan lokal.
Mereka percaya bahwa waktu terbaik melaut bisa terbaca dari “bahasa alam” seperti arah angin, suhu air, dan bahkan fase bulan.
Sejak dini hari, nelayan Trenggalek memeriksa tanda-tanda alami yang menjadi sinyal musim ikan laut.
Baca Juga: Musim Ikan di Prigi Trenggalek, Harga di Tingkat Pedagang Anjlok
Misalnya, bila angin mulai berembus dari timur dan laut tenang, itu artinya hasil tangkapan ikan berpotensi melimpah. Dalam istilah mereka, "laut sedang membuka pintu rejeki."
Namun yang paling menarik adalah kepercayaan terhadap bulan gelap. Dalam budaya nelayan lokal, bulan mati dipercaya sebagai waktu di mana ikan naik ke permukaan untuk mencari plankton.
Kakek-kakek kita dulu mengatakan, "Wulan peteng, iwak munggah," yang artinya saat bulan menghilang, ikan bermunculan.
Menyimak Iklim, Menerka Ikan
Nelayan Trenggalek tak hanya mengandalkan firasat atau pengalaman semata. Dalam praktiknya, mereka turut mencermati perubahan iklim sebagai faktor yang memengaruhi musim ikan.
Misalnya, perubahan arah angin muson atau hujan yang datang lebih cepat bisa membuat pergeseran musim ikan laut.
Tanda lain yang diperhatikan adalah warna air laut. Bila laut mulai berwarna kehijauan dengan permukaan berkilau, itu tandanya plankton berkembang dan itu berarti ikan mulai mendekat.
Bagi nelayan, memahami ini jauh lebih akurat ketimbang menunggu aplikasi ramalan cuaca yang kadang malah bikin bingung.
Musim Ikan Bukan Cuma Insting
Meski ilmu kelautan modern bisa memprediksi hasil tangkapan ikan, para nelayan Trenggalek tetap mengandalkan metode tradisional yang terbukti manjur selama puluhan tahun.
Setiap generasi diajarkan untuk membaca tanda-tanda laut: bunyi gelombang, arah burung camar, bahkan bau air laut yang berubah.
Bagi mereka, musim ikan bukan sekadar kesempatan ekonomi, tetapi juga bagian dari harmoni dengan alam.
Mereka melaut bukan untuk menguras laut, tapi untuk "memetik rezeki" yang memang waktunya tiba. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom