Trenggaleknjenggelek – Peremajaan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan produksi pertanian, terutama di tengah ancaman hama dan perubahan iklim. Salah satu inovasi yang kini mulai diterapkan adalah penggunaan drone penyemprot pestisida di lahan pertanian.
Penyemprotan dilakukan bersama antara TNI dan pemerintah kabupaten (pemkab). Tujuannya untuk memperkenalkan alsintan modern kepada petani.
“Teknologi drone ini sangat membantu. Dalam waktu singkat, bisa menjangkau satu hektare lahan. Hemat tenaga, hemat pestisida, dan hasilnya lebih merata,” ujar Komandan Kodim 0806 Trenggalek Letkol Inf Isnanto Roy Saputro.
Dirinya menyebut bahwa alat seperti ini penting untuk mendukung modernisasi pertanian dan menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pangan.
Menurutnya, pertanian tak lagi identik dengan pekerjaan kotor dan berat.
“Sekarang bertani bisa dengan teknologi. Pegang remote, tidak kepanasan, tapi hasil maksimal. Ini lompatan besar untuk regenerasi petani,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian Trenggalek, Imam Nurhadi, menegaskan pentingnya peremajaan alsintan demi efisiensi dan peningkatan hasil tani.
“Drone ini bagian dari upaya kami memperkenalkan mekanisasi kepada petani. Semakin cepat adopsi teknologi, semakin tinggi daya saing pertanian lokal,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi peran TNI dalam membantu edukasi teknologi di kalangan petani, apalagi saat serangan hama seperti wereng yang datang tiba-tiba dan luas.
“Kalau masih manual, jelas kewalahan. Maka kita butuh solusi cepat seperti ini,” imbuhnya.
Para petani Kelompok Tani Basuki pun menyambut baik inovasi ini. Banyak yang mengaku baru pertama kali melihat drone bekerja di sawah mereka. Mereka berharap pemerintah daerah terus menambah fasilitas seperti ini di desa-desa lain.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi penanggulangan darurat terhadap serangan hama, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan melalui modernisasi alat produksi.
Dengan adanya teknologi semacam ini, pertanian Trenggalek diyakini bisa lebih adaptif terhadap tantangan zaman dan tetap produktif, bahkan saat tenaga kerja tani semakin menipis. Peremajaan alsintan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan jika Indonesia ingin tetap jadi lumbung pangan di tengah persaingan global. (Jaz)