Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

PESAT Bantah Temuan Batu di Bendungan Bagong sebagai Lava Gunung Wilis

Akhmad Nur Khoiri • Minggu, 27 Juli 2025 | 01:30 WIB
Batuan diduga batu lava pijar dari Gunung Wilis Purba.
Batuan diduga batu lava pijar dari Gunung Wilis Purba.

Trenggaleknjenggelek – Temuan batuan aneh berukuran besar di kawasan proyek Bendungan Bagong, Desa Sengon, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, menuai klarifikasi dari Penggiat Sejarah Trenggalek (Pesat).

Sebelumnya, batu tersebut diduga sebagai lontaran lava purba dari Gunung Wilis, namun klaim itu dibantah secara ilmiah oleh Harmaji, Ketua Pesat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Agus Prasmono, sebelumnya menyampaikan bahwa batuan tersebut ditemukan oleh warga sekitar dan bentuknya menyerupai fosil. Total ada lima batu yang ditemukan.

“Sepintas batu ini tampak seperti fosil, namun menurut hemat kami, batu ini merupakan lontaran lava pijar dari Gunung Wilis Purba,” kata Agus pada Kamis (24/7/2025).

Namun Harmaji menyatakan, dari pengamatan langsung di lokasi, batu tersebut bukan fosil maupun termasuk objek diduga cagar budaya (ODCB).

“Bentuknya memang mirip seperti fragmen kaki gajah, tapi kita tidak bisa langsung menyimpulkan. Perlu dilakukan pengecekan langsung pada lokasi asal batu ditemukan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bila benar itu fosil, maka yang tersisa seharusnya hanya bagian tulang, bukan bentuk utuh lengkap dengan struktur jaringan lunak seperti daging dan kulit.

“Bagian lunak akan terurai oleh mikroorganisme tanah, sehingga kecil kemungkinan bentuk seperti itu bisa membatu dan menjadi fosil,” tegasnya.

Berdasarkan pengamatan tim Pesat, batuan tersebut justru lebih mungkin terbentuk dari proses geologi alami yang disebut columnar joint—struktur bebatuan yang terbentuk secara alamiah dan berpola lurus, segi empat, segi delapan, bahkan melingkar.

“Fenomena seperti ini pernah kita temukan juga di beberapa wilayah Trenggalek seperti di Pule dan Panggul,” tambah Harmaji.

Ia menegaskan bahwa dari titik koordinat lokasi yang dikunjungi, sekitar 3.320–3.340 x 185, tidak ditemukan indikasi bahwa batuan itu termasuk benda cagar budaya atau berasal dari lava purba.

Bahkan fenomena batuan mirip bentuk hewan seperti itu, kata dia, bisa juga ditemukan di banyak belahan dunia, seperti formasi Elephant Rock.

“Jadi, dari pengamatan kami, batuan di Bendungan Bagong itu bukan fosil, bukan benda cagar budaya, tapi fenomena geologi alami,” pungkasnya. (kho)

BIKIN REPOT LASKAR MATARAM: Thijmen Goppel (kiri) ditempel ketat  pemain PSIM, Ghulam Fatkur Rahman .(Miftahuddin/Radar Bali)
BIKIN REPOT LASKAR MATARAM: Thijmen Goppel (kiri) ditempel ketat pemain PSIM, Ghulam Fatkur Rahman .(Miftahuddin/Radar Bali)
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#batu #pesat #trenggalek #Disparbud