Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

‎Disippus Trenggalek Dorong Penulisan Konten Lokal Kabupaten Trenggalek, 61 Peserta Masuk Finalisasi Kepenulisan Berbasis Kearifan Budaya Lokal

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 28 Juli 2025 | 23:38 WIB

‎Disippus Trenggalek Dorong Penulisan Konten Lokal Kabupaten Trenggalek
‎Disippus Trenggalek Dorong Penulisan Konten Lokal Kabupaten Trenggalek

Trenggaleknjenggelek – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disippus) Kabupaten Trenggalek terus mendorong pelestarian budaya dan sejarah melalui program kepenulisan berbasis konten budaya lokal.

Dari proses seleksi yang ketat, sebanyak 61 penulis berhasil masuk tahap naskah final yang nantinya akan diterbitkan melalui kanal resmi Perpusnas Press.

‎Kepala Disippus Trenggalek, Catur Budi Prasetyo, menyampaikan apresiasi tinggi kepada para peserta yang telah menunjukkan komitmen dan dedikasi luar biasa dalam menuliskan kekayaan budaya lokal yang kian tergerus zaman.

‎“Kalian semua adalah insan-insan pilihan, pionir dalam pelestarian budaya melalui tulisan,” ujarnya saat memberi sambutan dalam kegiatan finalisasi naskah, Sabtu (26/7/2025).

‎Program ini dimulai dengan penjaringan peserta melalui seleksi abstrak, yang kemudian direview oleh para narasumber.

Dari ratusan pendaftar, hanya 86 peserta yang terpilih mengikuti bimbingan teknis (bimtek).

Selama tiga minggu, mereka didampingi narasumber secara daring untuk merevisi dan menyempurnakan naskah masing-masing.

‎Setelah melalui tahapan konsultasi dan penyuntingan, sebanyak 61 peserta berhasil mengumpulkan berkas naskah akhir yang telah melalui review dan revisi lanjutan.

Finalisasi dilakukan hari ini sebagai tahap akhir sebelum naskah diserahkan kepada panitia untuk proses penerbitan.

‎Catur menekankan pentingnya kontribusi penulis lokal dalam membangun literatur berbasis kearifan lokal, mengingat minimnya jumlah karya tulis yang membahas budaya daerah dari sudut pandang masyarakat sendiri.

‎“Para penulis tentang budaya Indonesia masih sangat kurang. Kita terlalu banyak membaca teori dari luar, padahal kita punya kekayaan budaya yang luar biasa,” tegasnya.

‎Ia mencontohkan bagaimana dulu Indonesia menjadi pusat peradaban yang maju, bahkan mampu menciptakan alat musik dari logam seperti gong ketika bangsa lain masih menggunakan alat berbahan kulit atau kayu.

‎“Dulu orang barat banyak belajar ke kita. Jadi jangan sampai kebo nyusu gudhel, karena dahulu Eropa yang belajar pada kita,” ujar Catur disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Program penulisan ini juga disinergikan dengan tujuan jangka panjang, yaitu mendukung program literasi budaya dalam muatan lokal serta menjadi pijakan awal dalam menciptakan ekosistem kepenulisan berbasis kearifan lokal di daerah.

‎“Ini bukan akhir, tapi justru awal. Mari terus menulis dan menghargai budaya kita sendiri. Tanpa itu, sulit mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#Disippus Trenggalek #kepenulisan #budaya #konten lokal #sejarah