Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kemarau Basah Picu Kelembaban Tinggi, Petani Trenggalek Perlu Waspadai Hama Jamur

Betty Khasandra Pujayanti • Selasa, 5 Agustus 2025 | 01:57 WIB
Air hujan menggenang di pematang sawah di tengah musim kemarau yang seharusnya tidak kering.
Air hujan menggenang di pematang sawah di tengah musim kemarau yang seharusnya tidak kering.

TRENGGALEKNJENGGELEK - Wilayah Trenggalek dilanda kemarau basah di tengah musim kemarau yang seharusnya kering.

Kemarau basah membuat udara dan tanah tetap lembab, menciptakan kondisi ideal bagi jamur untuk tumbuh dan menyerang tanaman.

Jika tidak diantisipasi, dampak kemarau basah ini bisa menyebabkan penyebaran jamur meluas dan menurunkan kualitas hasil panen.

Fenomena kemarau basah ditandai dengan masih turunnya hujan di tengah musim kemarau.

Meskipun tidak setiap hari, curah hujan yang datang secara berkala membuat kelembaban tanah dan udara tetap tinggi.

Akibatnya, lahan pertanian tidak benar-benar kering seperti biasanya, dan menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan penyakit tanaman.

Jamur menjadi salah satu ancaman utama dalam situasi ini.

Tanaman seperti padi, cabai, tomat, dan hortikultura lainnya sangat rentan terserang penyakit jamur seperti bercak daun, busuk batang, hingga layu.

Serangan ini tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hasil panen secara drastis.

Kelembaban berlebih juga dapat memicu kemunculan hama lain seperti bakteri dan virus tanaman yang menyebar melalui air atau percikan hujan.

Tanaman yang tidak mendapat cukup sinar matahari akibat mendung berkepanjangan juga lebih lemah dalam bertahan terhadap infeksi.

Di sisi lain, tanah yang terlalu basah membuat akar sulit bernapas dan meningkatkan risiko busuk akar.

Petani di Trenggalek perlu mengambil langkah antisipatif dengan menjaga kebersihan lahan, memastikan drainase berfungsi baik, dan mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara tetap lancar.

Fungisida dapat digunakan secara selektif, namun penting juga mempertimbangkan metode pengendalian ramah lingkungan agar kesuburan tanah tetap terjaga.

Selain serangan hama, kemarau basah juga mengganggu proses pascapanen.

Aktivitas penjemuran hasil pertanian seperti gabah, jagung, dan hasil panen lainnya menjadi lebih lama karena sinar matahari tidak maksimal.

Kelembaban tinggi memperbesar risiko tumbuhnya jamur pada hasil panen yang belum kering sempurna sehingga memengaruhi kualitas dan daya simpan produk.

Pola cuaca yang tak menentu juga mempersulit penentuan waktu tanam.

Sebagian petani memilih menunda pembajakan sawah karena masih sering tergenang, sementara yang lain tetap memaksakan tanam dengan risiko gagal tumbuh.

Ketidakteraturan musim seperti ini bisa berdampak panjang terhadap siklus tanam berikutnya.

Menurut informasi dari lembaga prakiraan cuaca, kemarau basah di beberapa wilayah Jawa Timur, termasuk Trenggalek, diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Agustus.

Hal ini berkaitan dengan pengaruh global seperti anomali suhu laut yang mengganggu pola hujan di Indonesia.

Petani diharapkan tetap siaga dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu ini.

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#petani #kemarau basah #trenggalek #Hama Jamur