Trenggaleknjenggelek – Potensi hasil hutan di wilayah Trenggalek tidak akan bisa memberi manfaat yang signifikan jika tanpa dibarengi dengan produksi dari segi industri. Kendati demikian, proses produksi dari segi industri tersebut tidak boleh meninggalkan kondisi hutan yang tetap hijau.
Untuk itu, pemerintah dan pemilik industri wajib melakukan upaya pengembangan industri hasil hutan berbasis lingkungan. Sehingga perlu menggandeng sejumlah pihak dalam rangka mendorong terjalinnya kemitraan industri yang sejalan dengan prinsip produksi ramah lingkungan.
”Karena itu kami akan terus menekankan pentingnya sinergi antar sektor industri dalam membangun ekosistem produksi hijau,” ungkap Corporate Relations Manager Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Bay Iqbal Bustami ketika berkunjung di Trenggalek.
Baca Juga: Mas Wabup Ingin Paskibraka Trenggalek Harus Jadi Teladan Bagi Generasi Muda
Karena itu berbagai produk ramah lingkungan harus dikembangkan untuk menjaga kondisi alam. Sehingga kemenperin begitu mendukung sebuah perusahaan yang saat ini tengah mengembangkan kemasan karung sak berbahan dasar pati singkong.
“Packaging ini sedang kami kembangkan agar bisa menahan berat produk hingga 50 kilogram dan awet sampai sembilan bulan, namun tetap ramah lingkungan,” katanya.
Teknologi tersebut dinilai cocok untuk mendukung kebutuhan industri hasil hutan seperti yang tengah dijalankan Inhutani di Trenggalek. Penerapan kemasan ramah lingkungan tersebut mendapat sambutan positif dari perusahaan tersebut, sejalan dengan penerapan sistem manajemen lingkungan perusahaan berdasarkan standar ISO 14001.
Baca Juga: Kondisi Agropark Trenggalek Konsep Menyimpang, Perlu Evaluasi Total
Langkah kolaboratif tersebut diharapkan mampu mendorong transformasi industri hasil hutan Indonesia menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan efisiensi dan kualitas.
“Disini (Trenggalek,red) sebagai salah satu basis produksi getah pinus dinilai strategis untuk menjadi model pengembangan industri berbasis hasil hutan yang lestari,” jelas Iqbal.
Disisi lain, Manager Industri PT Inhutani V Unit Trenggalek, Reinaldhi Andriano Saputra, memaparkan bahwa pihaknya telah memproduksi berbagai turunan dari getah pohon pinus, seperti ester dan rosin size emulsion. Produk tersebut digunakan untuk berbagai keperluan industri, antara lain marka jalan, lem, tinta, dan pelapis kayu maupun besi.
Baca Juga: AKI Trenggalek Tembus 48,66 Kg per Kapita per Tahun, Konsumsi Ikan Laut Tetap Mendominasi
Namun, tantangan utama ke depan menurut Reinaldhi bukan hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga menjaga komitmen terhadap prinsip keberlanjutan.
"Kami terus berupaya agar setiap lini produksi dapat mengikuti standar ramah lingkungan, termasuk dalam pemilihan bahan baku dan pengemasan," ujarnya.(jaz)