Trenggaleknjenggelek – Para anggota Polres Trenggalek harus benar-benar memiliki kesiapan untuk memegang senjata api. Pasalya, hanya anggota yang lulus tes psikologi yang dapat memegang senjata api organik.
Hal tersebut dilakukan karena telah menjadi bagian dari pengawasan ketat terhadap penggunaan senjata di lingkungan kepolisian. Kebijakan tersebut kembali ditegaskan dalam kegiatan mapping psikologi.
Tercatat terbaru ada 166 personel, yang meliputi anggota SPKT Polsek jajaran, Pam Obvit Satsamapta, seluruh pemegang senpi yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Anggota pemegang senpi harus ikut dalam kegiatan ini tanpa kecuali seperti Bintara yang menjabat perwira, serta ASN dan anggota yang memerlukan konseling,” ungkap Kabag SDM Polres Trenggalek, Kompol Sudaroini.
Ia menambahkan, mapping psikologi yang digelar enam bulan sekali bekerja sama dengan Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jawa Timur ini juga berfungsi memetakan kepribadian, minat, bakat, dan kompetensi personel. Hasilnya digunakan untuk penempatan sesuai potensi, serta menjadi persyaratan bagi anggota yang ingin mengikuti pendidikan lanjutan seperti SIP atau PAG.
“Tes ini menjadi indikator kelayakan memegang senjata. Walaupun hasil tertulis baik, jika tingkat emosi dinilai tinggi, maka rekomendasi tidak akan diberikan,” jelas Sudaroini.
Dengan prosedur ini, Polres Trenggalek memastikan senjata api hanya digunakan oleh anggota yang memiliki kendali emosional, sehingga keamanan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga. Hal ini dilakukan untuk menghindari para anggota menyalahgunakan senpi yang merupakan fasilitas dari negara.
“Hasil tes bagus bukan jadi jaminan, sebab kami memadukan hasil tes ini dengan catatan kinerja dan merit system agar penempatan personel tepat sasaran,” imbuhnya.(jaz)
Editor : Zaki Jazai