Trenggaleknjenggelek – Fenomena bulan purnama yang berlangsung sejak awal Agustus membuat hasil tangkapan nelayan di Bumi Menak Sopal anjlok tajam. Minimnya pasokan ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Prigi dan pelabuhan sekitar mendorong harga sejumlah jenis ikan melonjak hingga tiga kali lipat di pasaran.
Di kawasan Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, nelayan mengaku jumlah tangkapan menurun drastis. Jika pada musim panen raya satu kapal purse seine atau tonda bisa membawa pulang 1-3 ton ikan per trip, kini banyak kapal yang hanya mendapatkan puluhan kilogram saja.
Jenis ikan tongkol yang biasanya dijual Rp 4.000 sampai Rp 10.000 per kilogram, kini tembus Rp 25.000 per kilogram. Ikan layang yang semula hanya Rp 3.000 sampai Rp5.000 kini mencapai Rp 15.000.
Kenaikan juga terjadi pada cakalang yang naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram, serta tenggiri yang menyentuh Rp 80.000 per kilogram.
“Kalau pas bulan purnama seperti ini, ikan lebih sulit ditangkap. Mereka biasanya berenang di kedalaman dan menyebar, sehingga jaring nelayan sulit menjangkau. Stok di pasar berkurang banyak, otomatis harga naik,” ujar seorang nelayan Pantai Prigi, Nurohmat.
Fenomena tersebut, lanjutnya, menjadi siklus tahunan bagi nelayan. Setiap kali bulan purnama, terutama di pertengahan bulan menurut kalender lunar, hasil tangkapan hampir pasti menurun. Namun dampaknya terasa lebih berat tahun ini karena harga bahan bakar solar dan es balok untuk pengawetan ikan juga naik.
“Kalau dapatnya sedikit, kadang malah rugi. Solar habis, es beli, tapi ikan cuma sedikit. Makanya sebagian nelayan kecil pilih istirahat dulu,” katanya.
Hal yang tidak jauh berbeda ditambahkan Jaka Santoso. Berdasarkan pengalaman fenomena tersebut bisa berlangsung 7–14 hari setiap bulannya. Dalam periode tersebut, jumlah ikan yang masuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Prigi bisa turun hingga 60 persen dibanding hari biasa. Pada Agustus tahun lalu, volume ikan yang dilelang selama fase bulan purnama hanya 52 ton, jauh lebih rendah dibanding rata-rata bulanan yang mencapai 140 ton.
Nelayan memperkirakan kondisi akan kembali normal setelah fase bulan gelap (new moon) ketika ikan kembali naik ke permukaan dan berkumpul di perairan dekat pantai.
“Kalau sudah bulan mati, nelayan biasanya panen besar lagi. Semoga cuaca juga bersahabat,” imbuhnya.
Sementara itu, dampak penurunan tangkapan tak hanya dirasakan nelayan. Pedagang ikan di pesisir pantai Prigi mengaku kesulitan mencari pasokan. Banyak yang terpaksa membeli dari daerah lain seperti Pacitan, Tulungagung, bahkan Blitar. Namun, harga di tingkat pemasok luar daerah pun sudah tinggi.
Siti Khoiriah, pedagang ikan di Pasar Prigi, mengatakan kenaikan harga membuat pembeli berkurang. Bulan purnama mempengaruhi perilaku ikan karena cahaya malam yang terang membuat mereka berpindah menjauh dari permukaan. Kondisi ini mengganggu metode penangkapan seperti purse seine yang mengandalkan cahaya lampu untuk menarik ikan ke dekat jaring.
“Biasanya pembeli ramai kalau ikan tongkol murah, sekarang pada mikir dua kali. Kalau harga segini, banyak yang beli seperempat kilo saja,” ujarnya. (Jaz)
Editor : Zaki Jazai