TRENGGALEKNJENGGELEK – Menjelang HUT ke-831 Trenggalek, jumlah pesanan maket Agustusan tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Jumlah pesanan dari pelanggan tetap ada, tetapi tidak cukup untuk menjaga pendapatan pengrajin tetap stabil sepanjang bulan Agustus.
Ini seperti yang terlihat di salah satu pusat produksi maket atau miniatur di Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan.
Baca Juga: 60 Ribu Batang Rokok Ilegal di Trenggalek Disita Satpol PP
Agung (40), salah satu perajin mengungkapkan bahwa pesanan maket tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pesanan membludak pada awal Agustus.
Menurutnya, berkurangnya pesanan maket terjadi karena instansi pemerintah tidak ikut serta dalam pawai budaya tahun ini.
“Jumlah pesanan tahun ini turun ya lumayan, sebagian besar karena instansi pemerintah tidak ikut pawai. Biasanya mereka jadi pelanggan utama sehingga ini cukup berpengaruh pada pendapatan kami,” jelas Agung, pada Jumat (22/08/2025).
Beberapa pelanggan sempat menunda pemesanan karena isu terkait penyelenggaraan ekonomi kreatif (ekraf), meski akhirnya kegiatan tetap digelar di Trenggalek.
“Banyak pelanggan yang menunda pesanan karena memang menunggu kepastian jadwal kegiatan ekraf. Sebelumnya kan ramai diumumkan kalau tidak akan ada ekraf. Sampai awal bulan Agustus tidak ada diberi kepastian. Masih simpang siur,” ungkap Agung.
Penurunan pendapatan memengaruhi perencanaan produksi maket di Kedungsigit Karangan sehingga jadwal pengerjaan harus disusun lebih hati-hati.
Alokasi tenaga kerja di Kedungsigit Karangan disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk agar seluruh maket tetap selesai maksimal tanpa mengurangi kualitas produksi yang diharapkan pelanggan.
“Meski omset menurun, kami tetap berusaha menyelesaikan semua pesanan tepat waktu. Setiap maket ini kami buat dengan kualitas maksimal sehingga para pelanggan bisa puas,” ujar Agung.
Sebagian besar pesanan digunakan untuk pawai budaya tingkat sekolah dan umum. Sementara beberapa maket ditampilkan di stan expo di Alun-Alun Trenggalek.
“Pelanggan datang itu dari PAUD ada, SMP lalu SMA. Ada juga pesanan dari komunitas. Rata-rata pesan lebih dari satu maket. Totalnya maket ada sepuluh pesanan,” ungkap Agung.
“Pesanan tahun ini macam-macam. Ada rumah adat, replika kapal laut, becak hias, masjid, juga beberapa miniatur lain,” tambahnya.
Total maket tahun ini hanya sekitar sepuluh unit. Jumlah tersebut dianggap menurun dibandingkan tahun lalu yang bisa mencapai belasan hingga puluhan unit.
Para pengrajin terus menjaga kreativitas pada setiap maket meski jumlah pesanan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Mereka mengatakan mereka berupaya menghasilkan karya layak pamer untuk pawai dan expo ekonomi kreatif yang digelar di Trenggalek.
“Kreativitas tetap dijaga agar setiap maket bisa dipamerkan dengan baik, meskipun jumlah pesanan menurun dibanding tahun lalu. Hal ini sangat penting untuk menjaga reputasi kami. Biar dipercaya pelanggan,” jelas Agung.
Tim pengrajin mengerjakan maket secara bertahap agar tidak menumpuk menjelang perayaan HUT ke- 831 Trenggalek sehingga kualitas tetap terjaga.
“Rata-rata tim kami bisa menyelesaikan 10–15 maket selama bulan Agustus, tergantung tingkat kesulitan tiap maket. Beban kerja lebih berat, tapi kami tetap fokus,” ungkapnya.
“Pendapatan memang menurun, tapi kami tetap fokus menyelesaikan pesanan dengan baik, memastikan setiap maket sesuai permintaan pelanggan,” tuturnya.
Agung berharap tahun depan pesanan maket meningkat supaya omset kembali stabil sekaligus menjaga keberlanjutan usaha kreatif di Trenggalek.
Editor : Akhmad Nur Khoiri