Trenggaleknjenggelek - Kabupaten Trenggalek tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan warisan budaya yang sarat makna sejarah.
Salah satunya adalah pusaka Tombak Korowelang, senjata sakti yang diyakini sebagai simbol kekuatan dan pelindung bagi masyarakat Trenggalek sejak masa lampau.
Baca Juga: Nelayan Hilang di Perairan Munjungan, Kapal Ditemukan Terdampar Tanpa Awak
Tombak Korowelang diyakini berasal dari era kerajaan Jawa kuno. Menurut catatan sejarah dan cerita tutur masyarakat, pusaka ini merupakan peninggalan dari masa pemerintahan Ki Ageng Menak Sopal, tokoh pendiri sekaligus pelopor berdirinya Trenggalek pada abad ke-16.
Nama Korowelang sendiri berasal dari dua kata, yakni koro yang berarti binatang kecil pemangsa padi (hama), dan welang yang berarti ular belang. Filosofinya menggambarkan kewaspadaan serta kekuatan dalam menghalau segala bentuk gangguan, baik dari musuh maupun bencana.
Tombak ini dahulu diyakini sebagai senjata andalan dalam perjuangan membangun daerah Trenggalek. Selain berfungsi sebagai senjata fisik, pusaka ini juga dipercaya memiliki tuah spiritual untuk melindungi rakyat dari marabahaya.
Hingga kini, Tombak Korowelang masih dijaga dengan penuh kehormatan. Pusaka ini kerap dikeluarkan dalam upacara adat dan prosesi penting daerah, seperti Hari Jadi Kabupaten Trenggalek. Dalam prosesi tersebut, tombak dibersihkan, disucikan, lalu diarak sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur.
Selain menjadi lambang pelindung, Tombak Korowelang juga menjadi perekat identitas budaya masyarakat Trenggalek. Tradisi ini mengajarkan nilai gotong royong, penghormatan kepada sejarah, serta pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak tergerus zaman.
Bagi masyarakat Trenggalek, Tombak Korowelang bukan sekadar benda pusaka, melainkan juga simbol kejayaan, perjuangan, dan kearifan lokal. Melestarikan pusaka ini berarti menjaga jati diri sekaligus menyambung kisah panjang sejarah daerah.(gun)
Baca Juga: Udang Indonesia Terkontaminasi Sesium-137: Fakta Ilmiah di Balik Kasus Ekspor
Editor : Gunawan Rdr Tulungagung