Trenggaleknjenggelek – Perihal tambang emas di wilayah Bumi Menak Sopal kembali mencuat. Hal tersebut terkait kunjungan lapangan (field trip) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) ke Desa Ngepeh, Kecamatan Tugu.
Tak ayal hal tersebut menuai sorotan dari Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Sebab bupati menyayangkan pilihan UGM menggandeng PT SMN tanpa berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Menurutnya, kunjungan tersebut bersinggungan dengan isu sensitif tambang emas yang hingga kini masih mendapat penolakan dari sebagian masyarakat.
Dalam akun media sosialnya, Bupati Trenggalek menegaskan dirinya tidak menerima satu pun surat pemberitahuan mengenai field trip tersebut. Dirinya menilai hal itu janggal mengingat proyek tambang emas di wilayahnya masih menimbulkan resistensi publik.
“Seharusnya, kegiatan yang sensitif seperti ini dilaporkan. Jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat,” tulis Ipin melalui akun Instagram @avinml sambil menandai akun resmi UGM.
Dikonfirmasi terkait hal tersebut External Relation PT SMN di Trenggalek, Imam Rosyidin, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sepenuhnya diselenggarakan oleh Fakultas Teknik UGM. Pihaknya hanya menerima surat pemberitahuan dan tidak memiliki kewenangan untuk menyetujui atau menolak.
“Yang mengadakan panitianya dari Fakultas Teknik UGM sehingga tidak ada kaitannya langsung dengan SMN. Kami sendiri juga ingin mengetahui kegiatan mereka di area tersebut seperti apa,” katanya Jumat (19/9/2025).
Menurut Imam, sebenarnya field trip ke Trenggalek bukan kali pertama dilakukan oleh UGM, hanya saja baru kali ini surat ditujukan langsung kepada PT SMN. Agenda tersebut diikuti oleh para ahli geologi dunia, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara dengan tujuan mempelajari struktur mineralisasi yang diyakini masuk gugusan mineralisasi Sunda.
“Berdasarkan cerita, kegiatan ini sudah beberapa kali dilakukan. Tujuannya untuk mengetahui potensi mineral di Trenggalek. Kami sebagai perusahaan yang bergerak di bidang mineral juga ingin tahu sejauh mana potensi yang ada di sini,” lanjutnya.
Imam menambahkan, kegiatan di Desa Ngepeh hanya berlangsung sekitar satu jam sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke daerah lain sesuai jadwal yang mencakup Banten, Bogor, Yogyakarta, Madiun, Trenggalek, dan berakhir di Banyuwangi.
Menanggapi kritik Mas Ipin di media sosial, Imam menyatakan tidak mempermasalahkannya. Justru, kata dia, PT SMN berterima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah daerah dan membuka peluang untuk berkolaborasi.
Sedangkan terkait izin ke masyarakat, sebelum kegiatan tersebut telah ada koordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Ngepeh, bersama TNI-Polri. Buktinya ketika kegiatan berlangsung, didampingi oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga masyarakat yang meminjamkan tempat untuk beristirahat.
“Kita meniatkan untuk menggali potensi yang ada di Trenggalek. Kita tahu saat ini masyarakat sulit dalam hal ekonomi, tenaga kerja, maupun pembangunan. Kami terbuka kepada masyarakat dan tidak akan menutup-nutupi kegiatan SMN,” jelas Imam. (Jaz)