Trenggaleknjneggelek - Pemerintah Kabupaten Trenggalek harus lebih giat lagi dalam menghidupkan budaya literasi di tengah masyarakat. Pasalnya, saat ini minat baca masyarakat Bumi Menak Sopal masih belum sesuai harapan.
Itu terlihat ketika tingkat kunjungan dan kegemaran membaca masyarakat Trenggalek yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, tapi indeks literasi justru mengalami fluktuasi dan sempat turun pada 2024. Sebab tahun 2024, indeks literasi Trenggalek tercatat 80,34, lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 84,17.
Baca Juga: Trenggalek Tegas Tolak Ekonomi Ekstraktif, Setelah Tegur Field Trip Bupati Bertemu FT UGM
Karena itu berbagai program wajib dilakukan pemkab untuk menumbuhkan literasi tersebut, seperti bedah buku koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Trenggalek. Dalam acara tersebut turut melibatkan penulis, akademisi, penggiat literasi komunitas, guru, pelajar, dan mahasiswa.
“Dengan data itu makanya ketika melakukan berbagai program, saya sempat terkejut melihat masih ada minat baca generasi muda,” ungkap Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara.
Baca Juga: Penyidik Buru Dua Pelaku Pencurian di SMKN 1 Trenggalek, Beraksi dengan Bongkar Paksa Pintu Ruangan
Sehingga melihat apa yang terjadi ketika dilakukan berbagai program tersebut,pemkab yakin bawasannya masih ada generasi muda kita yang suka membaca. Sehingga hal tersebut patut dibanggakan dan dipertahankan. Sehingga berbagai kegiatan untuk meningkatkan literasi termasuk bedah buku yang sudah dijalankan tidak boleh berhenti hanya sebatas diskusi.
Ia berharap komunitas literasi maupun para pelajar yang hadir bisa menjadi penggerak untuk mengajak teman-temannya berkunjung ke perpustakaan dan membaca koleksi yang ada.
“Buku adalah jendela dunia, tetapi tidak akan memberi arti bila hanya disimpan atau dipajang di perpustakaan saja. Untuk itu saya ingin mengajak kepada semua untuk menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan sehari-hari,”katanya.
Baca Juga: SMKN 1 Trenggalek Kembali jadi Sasaran Maling, Sejumlah Uang Raib Diambil
Apalagi, tantangan literasi di era digital semakin berat karena masyarakat kini lebih akrab dengan gawai dan arus informasi yang serba cepat. Untuk itu, ia menilai pemerintah daerah bersama masyarakat harus bekerja lebih keras dalam memperluas akses literasi dan menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.
Kegiatan bedah buku yang telah dijalankan tersebut diharapkan menjadi momentum agar Pemkab Trenggalek semakin serius mendorong lahirnya budaya baca dan tulis. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya kritis dan kreatif, tetapi juga mampu meninggalkan jejak pengetahuan bagi masa depan daerah.
“Mari kita ramaikan perpustakaan, hidupkan ruang-ruang baca, literasi di sekolah dan lingkungan masyarakat,” jelas Syah. (jaz)
Editor : Zaki Jazai