Trenggaleknjenggelek – Suara Partai Demokrat pasca menjadi jawara di 2009, terus mengalami penurunan secara konsisten termasuk di wilayah Trenggalek. Hal ini diakui oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Timur. Karena itu pengurus menegaskan pentingnya empati kader terhadap kondisi masyarakat sebagai kunci kebangkitan partai.
Plt. Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Mugianto, mengatakan bahwa untuk mendongkrak kembali suara partai, saat ini terus dilakukan forum pendidikan politik (dikpol) dan sosialisasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) terbaru. Kegiatan ini merupakan bagian dari roadshow politik ke seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Trenggalek menjadi lokasi ke-10 dalam rangkaian tersebut.
“Kami sedang melakukan konsolidasi dan evaluasi pasca pemilu. Pendidikan politik ini menjadi ruang refleksi bersama untuk membangkitkan kembali semangat kader di semua tingkatan,” ujarnya.
Menurut Mugianto, tren penurunan suara Demokrat pasca mencapai puncak pada 2009 dengan raihan suara tingkat nasional mencapai 20,9 persen atau 148 kursi DPR-RI harus menjadi bahan introspeksi kolektif. Sebab hingga saat ini belum ada partai politik yang bisa menyaingi torehan suara tersebut. Ia menilai, menurunnya kepercayaan publik bukan semata karena faktor elektoral, melainkan juga akibat menurunnya sensitivitas kader terhadap persoalan rakyat.
“Setelah 2009 ke 2014 suara Demokrat terus menurun, ini fakta yang tidak bisa diabaikan. Kita tidak bisa hanya berjuang di panggung politik, tapi juga harus hadir di hati rakyat. Kader harus kembali punya empati,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat perjuangan Partai Demokrat yang dulu kuat di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus menjadi teladan moral dan politik. SBY, kata dia, selalu menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan, bukan sekadar objek program.
“Presiden SBY itu mendengar keluhan rakyat, memahami kebutuhan rakyat, dan merumuskan kebijakan yang membumi. Kader harus belajar dari nilai-nilai itu,” ujarnya.
Dalam arahannya, pria yang akrab disapa Obeng ini juga meminta seluruh struktur organisasi dari tingkat ranting, DPC, hingga kader yang duduk di DPRD untuk aktif menyerap dan menyampaikan aspirasi warga. Ia menegaskan, partai hanya akan hidup jika kader di lapangan bergerak bersama masyarakat.
“Kita ingin struktur partai berfungsi sebagai jembatan aspirasi. Kader di bawah harus hidup dan dihidupkan, karena di sanalah denyut politik rakyat sesungguhnya,” imbuhnya.
Obeng mengingatkan, loyalitas dan kesantunan kader menjadi dua aspek penting yang menentukan citra partai di mata publik. Ia meminta agar kader Demokrat di semua tingkatan menjaga perilaku, menghindari gaya hidup hedonis, serta berhati-hati dalam berbicara di ruang publik.
“Kami selalu berpesan, jaga lisan dan perilaku. Jangan sampai perkataan atau gaya hidup kita melukai hati masyarakat. Kita sedang berjuang di tengah rakyat yang kondisinya belum sepenuhnya pulih secara ekonomi,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkab Trenggalek Buka Seleksi Terbuka JPT di Dua OPD
Selain membahas arah politik, kegiatan tersebut juga diisi dengan sosialisasi AD/ART terbaru Partai Demokrat. Melalui pembaruan aturan internal, DPD Demokrat Jatim berupaya memperkuat struktur organisasi agar lebih responsif terhadap tantangan sosial dan politik di daerah.
Obeng berharap, konsolidasi dan pendidikan politik ini tidak berhenti sebagai agenda formal, tetapi menjadi langkah nyata membangkitkan kembali kekuatan moral partai di tengah masyarakat.
“Kita ingin Demokrat kembali menjadi partai yang dekat, santun, dan empatik. Kalau itu bisa kita wujudkan, suara rakyat akan datang dengan sendirinya,” pungkas pria yang juga masih menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Trenggalek ini.(jaz)
Editor : Zaki Jazai