TRENGGALEK - Deru musik kendang berpadu dengan bunyi gemerincing gelang kaki. Puluhan penari jaranan menari penuh semangat di bawah cahaya lampu Alun-Alun Trenggalek, Sabtu (4/10) lalu.
Hal tersebut menjadi panggung bagi Tari Turonggo Yakso Pakem, kesenian asli Trenggalek yang telah menjadi identitas dan kebanggaan daerah.
Penampilan para maestro jaranan asal Kecamatan Dongko, yang merupakan tempat kelahiran tari Turonggo Yakso Trenggalek, menghadirkan suasana haru dan kagum.
Dengan gerak yang gagah dan hentakan irama khas, mereka membawakan versi pakem tanpa modifikasi.
Tarian ini disajikan sebagaimana diwariskan para leluhur dengan durasi hampir 25 menit.
Meski usia mereka rata-rata di atas 40 tahun, bahkan ada yang mencapai 51 tahun, semangat mereka tidak luntur.
Di balik setiap hentakan kaki dan kibasan cambuk, ada pesan bahwa Turonggo Yakso bukan sekadar tarian, melainkan simbol semangat perlawanan terhadap kejahatan dan pengingat akan harmoni kehidupan manusia.
Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara, hadir menutup perhelatan budaya yang bertajuk Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) tersebut.
Saat itu, wabup menegaskan pentingnya menjaga eksistensi kesenian jaranan sebagai jati diri masyarakat Trenggalek.
“Alhamdulillah hari ini sudah selesai. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi dan lebih meriah lagi. Karena bagaimanapun juga ini budaya asli Trenggalek yang harus kita lestarikan,” ujar Syah.
Menurutnya, keberlangsungan event jaranan di Trenggalek membuktikan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian tinggi terhadap warisan budaya daerah.
Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mendukung para pelaku seni agar kesenian jaranan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di masa depan.
“Kita ingin kegiatan ini bisa masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun 2026. Dengan begitu, Turonggo Yakso bisa dikenal lebih luas, bukan hanya di Jawa Timur, tapi juga di tingkat nasional,” tambahnya.
Selama ini, kegiatan jaranan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang silaturahmi bagi komunitas jaranan dari berbagai daerah.
Tidak hanya menampilkan kelompok lokal, festival ini juga kerap diikuti peserta dari luar Trenggalek.
Tahun ini, pelaksanaannya berlangsung lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tujuh hari penuh sebagai bentuk apresiasi terhadap minat masyarakat yang semakin tinggi.
Di sisi lain, pelestarian Turonggo Yakso juga menghadapi tantangan. Modernisasi dan masuknya berbagai bentuk hiburan digital membuat kesenian tradisional berpotensi tergeser.
Namun, bagi masyarakat Trenggalek, jaranan bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas sosial dan spiritual.
Turonggo Yakso sendiri memiliki filosofi mendalam. Dalam tradisi masyarakat Dongko, tarian ini menggambarkan kemenangan kebaikan atas kejahatan.
Gerakan gagah para penari melambangkan keberanian dan semangat juang, sementara irama musiknya menggugah semangat persatuan. Tak heran jika setiap kali tampil, Turonggo Yakso selalu berhasil membangkitkan rasa bangga di hati warga Trenggalek.
Pemerintah daerah berupaya memperkuat pelestarian kesenian ini melalui berbagai langkah. Selain dukungan terhadap festival tahunan, pelatihan tari bagi generasi muda juga digencarkan.
Sejumlah sekolah di Trenggalek telah memasukkan jaranan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, sementara para seniman senior rutin mengajar di sanggar-sanggar desa.
Pastinya dengan semangat pelestarian tersebut, pemerintah bersama masyarakat berharap Turonggo Yakso terus hidup di setiap panggung mulai dari desa hingga nasional, sebagai simbol kebanggaan, keberanian, dan identitas budaya Trenggalek.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Karena di setiap gerak tari Turonggo Yakso, tersimpan nilai-nilai keberanian dan gotong royong yang diwariskan leluhur,” tutur mantan anggota DPRD Trenggalek tersebut.(jaz/c1)