TRENGGALEK - Kendaraan mikrolet penumpang umum (MPU) atau angkutan pedesaan yang parkir di Terminal Trenggalek ternyata sangat sedikit.
Kondisi itu tercermin dari realisasi pendapatan asli daerah (PAD) terminal di Trenggalek yang hingga pertengahan September 2025 lebih banyak disumbang dari retribusi tempat usaha dibanding parkir kendaraan.
Berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari data Dinas Perhubungan (Dishub) Trenggalek menunjukkan, hingga 15 September 2025, pendapatan terminal mencapai Rp 87,459 juta atau 73,85 persen dari target tahunan sebesar Rp 118,424 juta.
Dari jumlah itu, retribusi tempat usaha menyumbang Rp 35,073 juta atau 79,45 persen, sedangkan parkir terminal hanya Rp 52,386 juta atau 70,52 persen dari target.
Hal tersebut menunjukkan pendapatan dari sektor parkir belum optimal lantaran minimnya aktivitas kendaraan yang keluar-masuk terminal.
“Memang jumlah kendaraan MPU yang parkir di terminal sekarang jauh berkurang. Aktivitas angkutan lebih banyak di luar area terminal sehingga realisasi retribusi parkir belum maksimal,” jelas Kepala Bidang Angkutan Dishub Trenggalek, Budi Supriyanto.
Sementara itu, sektor persewaan tempat usaha justru menjadi penopang utama PAD terminal tahun ini.
Sejumlah kios dan ruang usaha di sekitar terminal diketahui masih aktif dimanfaatkan pedagang sehingga kontribusinya lebih besar dari retribusi parkir kendaraan.
“Dari pos tempat usaha, capaian realisasinya justru lebih tinggi dibanding parkir. Ini menandakan potensi ruang usaha di terminal cukup baik untuk mendukung pendapatan daerah,” imbuh Budi.
Tahun ini, dishub menargetkan pendapatan terminal sebesar Rp 118,424 juta, yang terdiri dari Rp74,282 juta untuk sektor parkir dan Rp 44,142 juta untuk retribusi tempat usaha.
Hingga pertengahan September, capaian dua pos tersebut masing-masing baru mencapai 70,52 persen dan 79,45 persen.
Meski demikian, dia optimistis target tahunan dapat tercapai. Dishub berencana melakukan optimalisasi pada dua sektor utama pendapatan terminal.
Minimnya kendaraan MPU yang parkir menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah daerah.
Selain memengaruhi pendapatan, hal ini juga menggambarkan perubahan pola transportasi masyarakat.
Banyak penumpang kini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.
“Kami masih punya waktu lebih dari tiga bulan untuk mengejar target. Upaya optimalisasi terus kami lakukan, baik pengelolaan parkir maupun pemanfaatan ruang usaha di area terminal,” pungkasnya.(kho/c1/jaz)
Editor : Didin Cahya Firmansyah