TRENGGALEK - Musim hujan mendatangkan keberuntungan bagi sejumlah pedagang pembibitan tanaman. Termasuk di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, mengalami peningkatan penjualan.
Salah satu penjual bibit di Trenggalek, Juweni mengaku, jika saat ini memang mulai banyak pembeli. “Kalau istilah orang Jawa treceb atau waktunya musim tanam,” tandasnya.
Pria 55 tahun ini menjelaskan, sudah melakukan pembibitan sejak 1996 sehingga mengetahui persoalan pembibitan hingga konsumen di Trenggalek maupun luar daerah.
Tiap tahun di bulan ke 10 dan 11 atau Oktober hingga November rata-rata orang pegunungan mulai lakukan musim tanam.
Dengan harapan ketika hujan tidak perlu melakukan perawatan lebih rumit. ”Tak perlu merawat untuk penyiraman air,” tandasnya.
Namun kondisi saat ini berbeda. Yakni terkait musim hujan lebih lambat, sehingga pertumbuhan tanam tidak bisa normal.
Biasa rata-rata tanaman miliknya sudah memiliki ketinggian 1 meter. Tapi sekarang masih belum sampai ketinggian tersebut.
“Untuk proses penyiraman lebih intensif tiap hari tiga kali untuk memacu pertumbuhan tanaman,” katanya.
Meski demikian, pembeli tetap ada dari berbagai daerah. Jika Trenggalek dari daerah Pule, Dongko, atau kawasan pegunungan.
Untuk luar daerah berasal dari Blitar, Kediri, Tulungagung. “Hanya daerah sekitar yang, belum sampai kirim ke luar provinsi,” ungkapnya.
Dia menambahkan, jenis-jenis tanaman diminati mulai dari sengon, balsa, jabon, yang mudah tumbuh.
Jenis-jenis tanaman tersebut pun ada varietasnya. Mulai dari jaguar, Solomon, dan lain-lain.
Untuk harga jual pun berbeda terkait jenis-jenis sengon. Misal untuk varietas jaguar tinggi 1 meter per biji sekitar Rp 5-6 ribu .
Sedangkan varietas solomon, berkisar Rp 2,5 ribu per biji sekitar Rp 2,5 ribu. Jenis biasa Rp 1 ribu per biji.
Dia berharap, para pembibit ini lebih banyak dilibatkan ke proyek pemerintah, dengan harapan tanaman akan laku lebih banyak.
Selama puluhan tahun para pedagang jarang dilibatkan untuk pelaksanaan reboisasi maupun gerakan penanam pohon.
Jika dilibatkan kebutuhan tanaman akan lebih banyak dan bisa melibatkan warga setempat untuk perawatan. “Bisa membuka lapangan kerja baru ketika ada proyek,” pungkasnya. (gun/din)