TRENGGALEK - Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, dikenal sebagai salah satu sentra industri kerajinan bambu terbesar di Kabupaten Trenggalek.
Hampir setiap hari, puluhan warga desa setempat memproduksi berbagai jenis anyaman, terutama caping atau topi bambu yang menjadi ciri khas desa setempat dan Trenggalek ini.
Salah satu pengrajin, Mahrup menuturkan, dalam sehari mampu membuat antara empat hingga lima buah caping khas Trenggalek ini.
Setiap caping dijual dengan harga berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 12.000, tergantung kondisi pasar.
Baca Juga: Sambal Rujak Trenggalek: Kuliner Tradisional yang Melegenda
Biasanya hasil kerajinan kami dititipkan ke pasar atau pengepul yang datang setiap minggu,” ujar Mahrup, Kamis (9/10/2025).
Kepala Desa Wonoanti, Yanto, mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen warga Wonoanti bekerja sebagai pengrajin anyaman bambu.
Hampir di setiap rumah warga, aktivitas membuat anyaman bambu menjadi kegiatan harian yang sudah berlangsung turun-temurun.
“Ini bukan hanya bentuk kreativitas, tapi juga bagian dari ketahanan ekonomi warga kami,” kata Yanto.
Baca Juga: 8 Kesalahan Saat Minum Teh yang Bisa Membuat Kita Bermasalah
Dia berharap ke depan, produk anyaman bambu dari Wonoanti semakin dikenal luas, tidak hanya di wilayah Trenggalek, tetapi juga hingga luar daerah.
“Semoga kerajinan ini bisa terus berkembang dan menjadi sumber pendapatan utama warga, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat Wonoanti,” jelasnya.
Baca Juga: Kucai, Tanaman Kecil dengan Segudang Manfaat untuk Kesehatan Tubuh dan Potensi Ekonomi Masyarakat
Industri anyaman bambu di Wonoanti kini menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal dan keterampilan tradisional mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat pedesaan di Trenggalek.(gun)