Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tiga Perikanan Budidaya di Trenggalek yang jadi Penopang Ekonomi Pesisir, Namun Kini Mulai Muncul Tantangan

Dharaka R. Perdana • Selasa, 14 Oktober 2025 | 02:06 WIB

 

 

Sektor perikanan budi daya di Trenggalek  tengah menunjukkan geliat positif dan menjadi penopang utama ekonomi pesisir.
Sektor perikanan budi daya di Trenggalek tengah menunjukkan geliat positif dan menjadi penopang utama ekonomi pesisir.

TRENGGALEK - Sektor perikanan budidaya di Trenggalek  tengah menunjukkan geliat positif.

Produksi udang, kerapu, dan lobster terus meningkat dalam tiga tahun terakhir dan menjadi penopang utama ekonomi pesisir Trenggalek.

Namun, di balik capaian tersebut, muncul ancaman serius perubahan iklim dan keterbatasan lahan tambak di pesisir Trenggalek yang mulai menekan produktivitas.

Berdasarkan data dinas perikanan (diskan) yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek, hingga pertengahan 2025, total produksi perikanan budi daya mencapai 2,7 juta ton, dan diproyeksikan bisa menembus 5,5 juta ton pada akhir tahun.

Meski optimistis, pemerintah daerah tetap waspada terhadap dampak perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

“Perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi budi daya. Kualitas air tambak sangat dipengaruhi suhu dan curah hujan. Begitu keseimbangan terganggu, produksi bisa menurun signifikan,” kata Plt Kepala Diskan Trenggalek, Cusi Kurniawati, Senin (13/10/2025).

Selain faktor iklim, ketersediaan lahan tambak juga menjadi pekerjaan rumah besar.

Banyak lahan produktif kini beralih fungsi, sementara wilayah pesisir memiliki keterbatasan ruang untuk ekspansi.

“Di beberapa titik, tambak sudah padat. Petambak sulit melakukan perluasan karena terbentur tata ruang dan kondisi lahan yang tak lagi ideal,” ujarnya.

Di tengah tantangan tersebut, udang tetap menjadi primadona perikanan Trenggalek.

Dinas Perikanan mencatat, pada 2023, produksi udang mencapai 214.254 ton atau naik menjadi 214.987 ton di 2024.

Hingga Juni 2025, para petambak sudah menghasilkan 154.053 ton udang.

Cusi menegaskan, capaian tersebut tak lepas dari dorongan pemerintah untuk mengembangkan sistem budidaya intensif.

“Peningkatan produksi udang membuktikan bahwa pola intensif berhasil diterapkan. Kami terus mendorong petambak menggunakan teknologi pakan dan sistem air bersih yang lebih efisien,” terangnya.

Udang kini memberi kontribusi terbesar terhadap total produksi perikanan Trenggalek yang menembus 5 juta ton pada 2024, bahkan membuka peluang ekspor ke pasar luar daerah.

Selain udang, kerapu dan lobster juga menjadi komoditas penting. Produksi kerapu relatif stabil, dari 14.273 ton pada 2023 menjadi 15.970 ton pada 2024, dan sudah mencapai 2.190 ton hingga pertengahan 2025.

Namun, untuk lobster, data menunjukkan fluktuasi cukup tajam. Tahun 2023, produksi mencapai 11.271 ton, melonjak jadi 19.290 ton pada 2024, tapi nihil produksi hingga Juni 2025.

“Fluktuasi lobster ini bisa disebabkan faktor musim atau sistem pencatatan. Kami sedang melakukan penyesuaian agar data lebih akurat,” imbuh Asisten II Sekda Trenggalek ini.

Menurut dia, stabilitas produksi hanya bisa dicapai jika pembudi daya mampu beradaptasi terhadap dinamika iklim dan menerapkan inovasi teknologi akuakultur berkelanjutan.

“Target kami, produksi kerapu dan lobster bisa stabil di atas 15 ribu ton per tahun,” tambahnya.

Karena itu, pemkab berkomitmen memperkuat pendampingan bagi pembudi daya, termasuk pelatihan dan penyediaan akses permodalan.

Namun, dukungan lintas sektor juga dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan produksi.

“Kami tak bisa bekerja sendiri. Perlu kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari akademisi, swasta, hingga masyarakat pesisir agar sektor ini tetap tumbuh tanpa mengorbankan ekosistem,” kata Cusi.

Trenggalek sendiri pada 2024 sempat dinobatkan sebagai kabupaten dengan tingkat konsumsi ikan tertinggi di Jawa Timur.

Keberhasilan itu menjadi bukti nyata bahwa geliat sektor perikanan tak hanya menopang ekonomi lokal, tapi juga mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Meski demikian, Cusi menegaskan bahwa ancaman perubahan iklim dan keterbatasan lahan tak boleh diremehkan.

“Capaian produksi bisa tinggi, tapi jika tidak diimbangi adaptasi lingkungan dan tata kelola tambak yang berkelanjutan, maka ancaman tetap besar,” pungkasnya. (jaz/c1/rka)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#pesisir selatan #trenggalek #budidaya #penopang ekonomi #udang