TRENGGALEK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek kembali menuai sorotan.
Setelah sebelumnya berjalan dengan tujuan mulia memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah dasar, kini muncul sejumlah keluhan dari wali murid di SDN Senden Kecamatan Kampak dan SDN 1 Sumbergedong Kecamatan Trenggalek.
Sejumlah masalah MBG di Trenggalek yang dikeluhkan mulai dari menu kering dengan nilai di bawah standar hingga makanan basi yang diduga karena pengolahan dan distribusi yang kurang tepat.
Di SDN Senden Kampak, sejumlah wali murid menilai menu kering yang dibagikan Jumat (10/10) tidak sesuai dengan ketentuan harga nasional. Mereka menghitung nilai menu yang diterima hanya sekitar Rp7.000 per porsi besar, padahal standar seharusnya Rp10.000.
“Kalau dihitung, menu keringnya gak sampai sepuluh ribu. Telur satu biji dua ribu, susu kotak dua ribu lima ratus, kelengkeng cuma seribu, dan satu sachet Energen seribu lima ratus. Totalnya cuma tujuh ribu rupiah,” ungkap Nur (bukan nama sebenarnya) salah satu wali murid.
Menu yang dikirim penyedia saat itu berisi satu butir telur rebus, susu kotak, lima butir kelengkeng, dan satu sachet Energen untuk porsi besar. Untuk porsi kecil, Energen tidak disertakan.
Wali murid pun mempertanyakan kejelasan penggunaan anggaran dan meminta agar menu disajikan sesuai dengan ketentuan Badan Gizi Nasional, yaitu Rp10.000 untuk porsi besar dan Rp8.000 untuk porsi kecil.
“Kalau harga satu porsi sudah ditetapkan, penyedia juga wajib memberi menu yang sepadan. Bukan malah jauh dari standar,” tegasnya.
Namun, di sisi lain, masalah berbeda terjadi di SDN 1 Sumbergedong Kecamatan Trenggalek. Sejumlah wali murid melaporkan bahwa anak mereka tiga kali menerima menu MBG yang basi dalam beberapa minggu terakhir.
“Karena tidak enak dan berbau, adik saya tidak berani makan. Jadi setiap mendapat makanan seperti itu, kami memintanya untuk dibawa pulang biar kami cek sendiri,” ujar Joko (nama samaran), salah satu warga Sumbergedong.
Dia menceritakan, kasus pertama terjadi saat pembagian menu ayam yang ternyata berbau tak sedap.
Kejadian berikutnya terjadi pada pembagian nasi putih yang basi, dan terakhir, pada 17 Oktober 2025, saat pembagian nasi goreng yang juga berbau tidak segar.
“Kami sudah sampaikan ke anak, kalau mendapat makanan tidak enak, jangan dimakan. Bawa pulang saja,” tegasnya.
Menanggapi laporan itu, Plt. Kepala SDN 1 Sumbergedong, Anto Santosa, membenarkan adanya keluhan dari wali murid, meski menurutnya tidak semua paket nasi goreng mengalami kerusakan.
“Memang sore kemarin ada komplain dari salah satu wali murid soal nasi goreng yang basi. Tapi tidak semuanya basi. Bahkan ada siswa yang mengapresiasi menunya enak,” kata Anto.
Dia menjelaskan bahwa sekolah selalu memeriksa kondisi makanan sebelum dibagikan. Tim guru memastikan jumlah, aroma, dan rasa menu dalam kondisi layak konsumsi.
“Kami tidak langsung membagikannya ke siswa. Kami pastikan dulu makanan itu aman dan layak konsumsi,” tegasnya.
SDN 1 Sumbergedong menerima 163 paket MBG setiap hari untuk siswa dan tenaga pendidik. Program ini telah berjalan sejak 28 September 2025 dan baru kali ini mendapat keluhan dari wali murid.
Anto memastikan, pihak sekolah akan menyampaikan masukan kepada penyedia MBG agar kualitas makanan lebih diperhatikan.
“Apapun keluhannya, ini menjadi bahan evaluasi. Kami akan menyampaikannya ke SPPG agar makanan benar-benar higienis dan bergizi sesuai kebutuhan anak,” jelasnya. (jaz)
Editor : Didin Cahya Firmansyah