TRENGGALEK - Kemandiran pondok pesantren (ponpes) dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) di Trenggalek menjadi kunci dan diharapkan bisa bersaing di dunia internasional sebagai momen peringatan Hari Santri Nasional 2025.
“Apalagi tema Hari Santri tahun 2025, Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia. Artinya sangat relevan dengan perkembangan sekarang ini,” ungkap Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Trenggalek, Agus Prayitno, Selasa (14/10/2025).
Menurut dia, keberadaan ponpes sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Artinya dengan usia lama, memang saat ini tidak hanya berkiprah di tingkat lokal Trenggalek, tetapi lebih global.
Apalagi saat ini banyak lomba-lomba tingkat internasional, termasuk MTQ, dan rata-rata peserta merupakan para santri.
Dengan betigu, hal ini merupakan kesempatan emas bagi santri di ponpes untuk berkpirah di tingkat internasional.
Meski demikian, perlu SDM mumpuni untuk lebih banyak berkiprah di dunia internasional. Maka, para pengajar di ponpes pun perlu berbenah. Tidak saja ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu lain termasuk teknologi perlu dipelajari.
Dia menjelaskan bahwa di beberapa daerah sudah ada kampus di lingkungan pesantren, termasuk di Kediri, hingga strata doktor.
DI Trenggalek pun kini sudah dipersiapkan di Pondok Tengah, di Kamulan, Kecamatan Durenan. Sebab secara syarat memang memungkinkan.
Termasuk di pondok tersebut ada minimal 110 santri, sarpras mendukung, lahan, serta pengajar sudah layak.
Namun, kini tinggal perizinan dari provinsi untuk pelaksanaan operasional. “Mahasiswa sudah ada sekitar 30-40 untuk jurusan fikih,” tandasnya.
Baca Juga: Hari Santri Nasional 2025: Santri Siap Kawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia
Langkah-langkah itu sebagai upaya dalam peningkatan SDM di lingkungan ponpes untuk upgrade tingkat pendidikan.
Terkait kemandirian ponpes, ada yang sudah bergerak dengan program satu pesantren satu produk. Misal di Pule, produksi songkok, kios atau toko, dan lain-lain.
Ada satu produk di ponpes dan para santri bisa mengembangkan di lingkungan luar pondok. “Mereka (santri) bisa mandiri dengan keterampilan yang dimiliki,” katanya.
Terkait dengan sarana di ponpes Trenggalek berjumlah 76 lembaga, ada sekitar 40 lembaga butuh perhatian.
Maka, Kemenag terus melakukan pembinaan atau menitoring agar ponpes tersebut bisa mandiri dari segi finansial hingga sarpras.
Dia menegaskan, setelah kejadian ponpes ambruk di Sidoarjo, Kemenag mengimbau agar ketika akan melakukan pembangunan tetap konsultasi dengan pihak terkait atau dinas pekerjaan umum.
“Kalau sekarang ini untuk pendirian ponpes berbeda, mulai ada masjid, ruang belajar, santri, kiai, serta kitab. Jadi perlu survei kelayakan,” ujarnya.
Dia menambahkan, adanya program MBG pun membantu para santri untuk mendapatkan makan dari pemeritah. Artinya bisa mengurangi biaya operasional udi ponpes.(*/c1/rka)
Editor : Didin Cahya Firmansyah