Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kategori Usaha 34 SPPG MBG di Trenggalek Tak Jelas dan hingga Kini Belum Kantongi SLHS

Zaki Jazai • Jumat, 24 Oktober 2025 | 01:15 WIB

 

Kondisi salah satu dapur SPPG di Trenggalek yang semuanya belum memiliki SLHS karena tidak ada kejelasan kategori usaha
Kondisi salah satu dapur SPPG di Trenggalek yang semuanya belum memiliki SLHS karena tidak ada kejelasan kategori usaha

 

TRENGGALEK – Pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Trenggalek harus terus dilakukan secara intens.

Sebab saat ini ada sebanyak 34 SPPG  di Trenggalek yang telah beroperasi menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan siswa.

Namun hingga kini, belum ada satupun SPPG di Trenggalek yang mengantongi Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Trenggalek, Edy Soepriyanto menjelaskan, seluruh penjamah makanan di SPPG telah mengikuti pelatihan keamanan pangan.

Meski begitu, penerbitan SLHS masih tertunda karena belum ada kejelasan mengenai kategori usaha SPPG tersebut.

“Belum (punya SLHS, red) semuanya. Ini sedang kita dorong karena itu menjadi salah satu syarat penting untuk bisa beroperasi,” terangnya, Kamis (23/10/2025). 

Dia menajelaskan, penerbitan SLHS bisa dilakukan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi, tergantung pada skala usahanya.

Sehingga saat ini masih debatable, apakah SPPG tersebut masuk usaha mikro kecil atau menengah ke atas.

“Kalau mikro, kewenangan di bupati. Tapi kalau menengah besar, kewenangannya ada di provinsi,” tegasnya.

Pemkab, lanjut Edy, akan terus mendampingi setiap SPPG agar segera memenuhi persyaratan dan mendaftarkan SLHS melalui aplikasi Online Single Submission (OSS).

Baca Juga: Pedagang Pasar Basah di Trenggalek Keluhkan Imbas MBG, Harga Sembako Naik  

Termasuk membantu proses sertifikasi halal yang menjadi pelengkap kelayakan usaha pangan. “Ini kita dorong terus agar semuanya segera mendaftarkan SLHS dan sertifikasi halalnya,” ujarnya.

Meski belum memiliki SLHS, Edy memastikan sejauh ini tidak ada keluhan berarti dalam pelaksanaan program MBG.

Dia menegaskan, tidak ditemukan kasus siswa yang mengalami gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan dari SPPG.

Selain menjaga keamanan pangan, pemkab juga menekankan agar bahan baku yang digunakan berasal dari Trenggalek sendiri.

Hal itu bertujuan agar program MBG turut mendongkrak perekonomian lokal.

“Kita sebisa mungkin mendampingi program strategis nasional ini agar betul-betul dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama dari sisi ekonomi lokal,” pungkasnya. (jaz/rka)

Sungai di belakang merupakan Saxer Lücke (Roblox/Swiss Mountain: Saxer Lücke)
Sungai di belakang merupakan Saxer Lücke (Roblox/Swiss Mountain: Saxer Lücke)
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#MBG 2025 #trenggalek #SLHS