TRENGGALEK - Nelayan di Pelabuhan Prigi Trenggalek kini dihadapkan pada situasi sulit.
Yakni dengan kondisi cuaca tak menentu di pesisir selatan Trenggalek yang mengakibatkan tangkapan sulit untuk diprediksi.
Padahal jelang akhir tahun di Trenggalek merupakan masa puncak ikan, tetapi sekarang berbalik keadaan.
“Jika mengacu tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya memang di bulan-bulan akhir tahun masih ada ikan,” ungkap salah satu nelayan, Alandinata, Minggu (26/10/2025).
Dia mengaku bahwa di bulan-bulan sekarang ini masih sulit untuk mencari ikan.
Jika dipaksakan ke tengah laut akan ada risiko bahan bakar dan keselamatan.
Kapal besar dengan jarak tempuh lebih dari 70 mil akan berisiko. Yakni pulang bawa tangkapan atau tidak.
Jika bawa tangkapan akan lebih mudah untuk mengganti bahan bakar kapal serta kebutuhan anak buah kapal.
Berbeda saat tangkapan sepi, maka akan merugi dan para juragan kapal harus mencari modal kembali. “Ya mamang harus jeli,” tandasnya.
Dia mengaku ada beberapa kapal yang membawa hasil tangkapan, tapi tidak begitu banyak dan belum menggembirakan.
Kondisi tersebut tentu membuat nelayan lain akan berpikir ulang untuk ke tengah laut saat ini.
“Kalau kapal besar tidak berani melaut. Sempat ada panen, tapi tidak lama,” katanya.
Musim panen biasanya mulai dari Juni hingga November. Namun, kini hal tersebut tidak sesuai dengan prediksi tahun-tahun sebelumnya.
Dia menyatakan bahwa untuk kapal pancing masih ada yang ke tengah laut. Mereka biasa mencari tengiri dan harga jualnya sat ini tinggi.
Jika lebih dari 10 kilogram (kg) bisa mencapai ratusan ribu. Ukuran menentukan harga. “Makin besar, makin mahal,” ujarnya.
Dia berharap cuaca yang taka menentu ini segera berakhir dan nelayan bisa kembali melaut untuk mencari ikan.
Dia menambahkan, meski hasil tangkapan nelayan sepi, rata-rata warga lokal ini memiliki lahan tanam atau berkebun.
Jadi, nelayan sudah punya cara ketika pendapatan turun. Yaki akan kembali ke hutan untuk bertanam. (mg1/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah