TRENGGALEK - Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin kembali menegaskan cita-citanya menjadikan kawasan Dilem Wilis di Kecamatan Bendungan sebagai pusat pendidikan tinggi.
Terbaru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Terbuka (UT) terkait pelaksanaan tridarma perguruan tinggi dan peningkatan kapasitas tenaga pendidik di kawasan tersebut.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengaku kegiatan tersebut dilakukan karena pemkab memiliki visi untuk mengembangkan kawasan Dilem Wilis sebagai tempatnya kampus-kampus yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis pendidikan.
Sebab, pada kampus tersebut ada tridarma perguruan tinggi, yang nantinya akan dibarengi dengan kerja sama dengan para tenaga pendidik untuk meningkatkan kapasitas.
“Lebih seru tadi kami ingin di Trenggalek ada semacam talent up. Kita sudah dedikasikan kawasan Dilem Wilis jadi tempatnya kampus-kampus,” katanya.
Menurutnya, inisiatif ini merupakan kelanjutan dari kerja sama sebelumnya antara Pemkab Trenggalek dan sejumlah universitas besar, seperti UIN SATU Tulungagung dan Universitas Brawijaya.
Kini, lewat kolaborasi dengan Universitas Terbuka, pihaknya ingin menjahit rantai kepentingan lintas lembaga agar kawasan tersebut berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru di Kabupaten Trenggalek.
“Harapannya nanti kawasan itu bukan hanya pendidikan, tapi juga jadi tempat pertumbuhan ekonomi baru di Trenggalek,” imbuhnya.
Ipin menjelaskan, Kecamatan Bendungan dipilih karena lokasinya strategis, berada di antara Tulungagung dan Ponorogo, serta memiliki suasana yang tenang dengan ketinggian 1.200 hingga 1.900 meter di atas permukaan laut.
Selain itu, wilayah tersebut juga memiliki nilai sejarah yang kuat.
“Dulu, Belanda membangun pabrik di sana dengan energi baru terbarukan. Itu visi masa depan. Kita rangkul masa lalu, kita ambil hikmahnya, dan kita persiapkan masa depan yang lebih baik,” terangnya.
Bupati termuda di Jawa Timur itu juga menuturkan, gagasan tersebut muncul dari aspirasi masyarakat. Ia teringat pernyataan seorang warga saat masih menjabat sebagai wakil bupati.
“Waktu itu ada warga yang bilang, ‘Pak, mbok pabrik kopinya dihidupkan lagi, biar masyarakat sini bisa kerja seperti dulu’. Itu ironis, karena setelah merdeka, justru kawasan itu sepi,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka, Prof Ali Muktiyanto, menyambut positif ide Bupati Trenggalek tersebut.
Ia menilai visi Mas Ipin sangat visioner dan sejalan dengan arah pengembangan perguruan tinggi modern.
“Saya bangga dengan bupati muda yang visioner. Ia punya kepedulian kuat membangun Trenggalek dengan sumber daya manusia asli daerahnya. Terobosannya komprehensif, tidak hanya tridarma perguruan tinggi, tapi juga membangun agribisnis dan agrowisata,” imbuhnya.
Menurutnya, potensi kawasan Dilem Wilis sangat besar untuk dikembangkan menjadi education valley di Jawa Timur.
“Dengan potensi tanah seluas itu, saya kira mimpi Pak Bupati bukan sekadar mimpi. Bisa menjadi kenyataan. Dan UT siap berkolaborasi dari tahap kajian, penelitian, hingga perancangan kawasan,” imbuhnya.
Prof Ali juga mendorong agar Trenggalek memiliki Sentral Layanan Universitas Terbuka sendiri, dikelola oleh Pemkab Trenggalek, agar pelayanan kepada mahasiswa lebih dekat.
“Kita tidak harus bergantung pada hibah. Kalau Trenggalek bisa memfasilitasi, kita siap bantu desain program jangka pendek dan panjang, baik digital maupun nondigital,” jelasnya.
Ia menutup dengan optimisme bahwa gagasan Bupati Trenggalek itu bisa melahirkan kawasan pendidikan berkelas di masa depan. “Mari kita mulai dari yang kecil.
Bukan tidak mungkin di Trenggalek nanti lahir Silicon Valley atau Tangahoe Valley seperti di Korea. Ini sangat mungkin diwujudkan oleh bupati muda yang visioner,” pungkasnya.(jaz/c1/rka)