Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asa Literasi di Trenggalek di Tengah Keterbatasan Anggaran Akibat Efisiensi

Fatra Aditya • Jumat, 7 November 2025 | 02:30 WIB
Potret pengunjung Perpustakaan Daerah Trenggalek sedang memilih buku di rak, Kamis (6/11/2025).
Potret pengunjung Perpustakaan Daerah Trenggalek sedang memilih buku di rak, Kamis (6/11/2025).

TRENGGALEK– Perpustakaan di Trenggalek menjadi salah satu ruang publik yang menyediakan akses pengetahuan bagi masyarakat melalui berbagai koleksi buku yang dimilikinya.

Keberadaan perpustakaan di Trenggalek tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah, tetapi juga tersedia di tingkat kota maupun kabupaten sebagai fasilitas literasi yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga

Di Kabupaten Trenggalek sendiri terdepat beberapa layanan literasi, antara lain, Perpustakaan Daerah, Pojok Baca di kawasan alun-alun dan pojok baca digital yang berada di MPP (Mall Pelayanan Publik).

Selain itu, ada pula layanan perpus keliling, namun untuk sekarang, perpus keliling hanya beroperasional ketika terdapat permintaan karena dampak efisiensi anggaran.

Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disippus) Kabupaten Trenggalek, Endah Susilowati menjelaskan bahwa kini dinas berfokus pada pojok baca digital di MPP.

“Kalau kita sekarang fokus ke pojok baca digital MPP. Kalau yang di Alun-Alun memang sering tutup, kalau dulu dijaga anak PSG (Praktek Sistem Ganda), tapi kalau tidak ditemani ya kasihan,” ungkapnya Kamis (6/11/2025).

Endah juga menambahkan bahwa efisiensi anggaran berdampak cukup signifikan, kini perpusda hanya mendapatkan anggaran Rp 6 juta.

Hal tersebut dinilai memberatkan khusunya untuk pengadaan bahan pustaka.

Maka Endah mengusulkan seupaya pemerintah menaruh perhatianterkait kondisi perpustakaan, salah satunya melalui advokasi.

“Harusnya kadang kala untuk tau apa yang kita butuhkan kan perlu advokasi. Tapi advokasi kita terbatas,” jelasnya.

Melalui advokasi tersebut, Endah berharap pemerintah dapat mengadakan bahan pustaka yang tidak dapat terjangkau.

Dia menyebut bahwa di situlah seharusnya kehadiran perpustakaan membawa manfaat bagi masyarakat.

Dia menalogikan seperti orang tua yang tidak semuanya membeli buku, maka mereka dapat ke perpustakaan untuk mendapatkan bahan literasi.

“Saya yang gajian tiap bulan, kalau disuruh beli buku yang harganya 100 ribu ke atas ya masih mikir-mikir,” tuturnya.

Dengan keterbatasan anggaran yang ada, Endah berharap pemerintah, khususnya pemerintah daerah, menaruh perhatian khusus terkait dengan kondisi perpustakaan daerah.

 
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Disippus Trenggalek #perpustakaan #trenggalek #literasi #perpusda